Cara Membedakan Menstruasi dan Darah Implantasi

Saat muncul darah di celana dalam, kebanyakan wanita mungkin akan mengira dirinya baru memasuki masa menstruasi. Sedikit yang menyadari bahwa sebetulnya mereka justru tengah melihat darah implantasi alias pertanda awal kehamilan. Bercak darah sering diasosiasikan sebagai pertanda buruk pada kehamilan. Padahal, di awal masa kehamilan, bercak darah justru bisa saja muncul sebagai salah satu akibat dari proses pembuahan.

Pada sel telur wanita akan berbuah menjadi embrio ketika dibuahi oleh sperma. Embrio ini kemudian menuju ke arah rahim dan menanamkan diri ke dinding rahim. Proses penanaman atau perekatan ke dinding rahim ini terkadang mengakibatkan pendarahan yang disebut sebagai darah implantasi. Oleh karena itu, sebelum membedakan darah implantasi dan menstruasi, ibu perlu memastikan sedang dalam upaya hamil atau melakukan hubungan seksual sebelumnya.

Jika tidak, maka bercak darah yang keluar dari vagina bisa dipastikan merupakan darah menstruasi. Sedangkan, bagi ibu yang sedang dalam upaya memiliki keturunan, perbedaan darah implantasi dan menstruasi ini layak diketahui. Terdapat beberapa aspek dasar yang menjadi perbedaan keduanya, misalnya:

  1. Durasi

Menstruasi biasanya terjadi selama 3-7 hari diawali dengan jumlah pendarahan yang semakin banyak sebelum berangsur berkurang hingga berhenti total. Sementara darah implantasi umumnya hanya terjadi selama 24 hingga 48 jam.

  • Kram perut

Menstruasi biasanya disertai dengan kram perut dalam intensitas ringan hingga berat. Di lain pihak, implantasi tidak menyebabkan kram perut.

  • Gumpalan darah

Darah menstruasi umumnya disertai dengan gumpalan, sedangkan implantasi hanya berupa bercak dan tidak ada gumpalan sama sekali.

  • Warna

Darah menstruasi biasanya diawali dengan warna merah yang gelap, kemudian berangsur menjadi cokelat dan cokelat muda. Sedangkan darah implantasi biasanya berwarna merah muda, hingga kecokelatan.

Apakah perlu ke dokter?

Pendarahan implantasi biasanya muncul 6-12 hari setelah berhubungan intim. Kondisi ini umumnya tidak membutuhkan penanganan dokter, tetapi ibu boleh memeriksakan diri jika pendarahan semakin parah dan menimbulkan kram perut.

Ini 5 Tanda Dot Bayi Harus Diganti dengan yang Baru

Dot susu adalah benda yang paling sering digunakan pada bayi. Bagaimana tidak, dot bayi menjadi pengganti kehadiran bunda, yang dapat menyajikan susu sebagai satu-satunya makanan pokok bayi. Saat ini banyak jenis botol susu dan puting dot di pasaran, dari yang mahal hingga yang harganya lebih terjangkau. Namun, perlu diketahui selain menjaga kebersihannya setiap waktu, dot bayi juga memiliki masa pakai atau tanggal expired-nya.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini, lantaran masa expired botol bayi tidak berbanding lurus dengan perubahan bentuk fisiknya. Padahal kualitas botol susu pasti berkurang karena terus dipakai, sering dicuci atau selalu masuk dalam alat sterilisasi yang menggunakan suhu panas. Botol plastik memiliki masa pakai yang lebih pendek ketimbang botol kaca.

Masa ideal penggunaan dot bayi

Idealnya, botol susu hanya dipakai hingga enam bulan, Namun, Anda jangan bergantung pada patokan waktu, lihat juga kondisi dari bot bayi dan tanda-tanda kerusakan pada putting karet maupun ruang botolnya. Jika botol sudah berubah warna atau bentuk puting dot sudah rusak, Anda sebaiknya menggantinya dengan yang baru.

Selain itu, botol pun tidak luput dari ancaman jamur. Jika kaca atau plastik botol dipenuhi lapisan semacam kerak susu, namun sulit untuk dibersihkan, waspadai jika itu jamur dan sebaiknya jangan dipakai lagi. Pasalnya, jamur bisa muncul karena pencucian dan pengeringan botol yang tidak sempurna dan kondisinya lembap.

Tips memeriksa kondisi dot bayi

Jangan sepelekan penggantian botol susu bayi. Jika Anda tidak memperhatikan kondisi dot bayi, bayi Anda bisa saja terserang penyakit pencernaan seperti diare hingga gangguan usus atau gangguan kesehatan lain akibat kerusakan botol atau dot yang tidak kelihatan. Berikut beberapa tanda saat Anda harus mengganti botol susu bayi.

  1. Periksa puting dot setiap dua hingga tiga bulan, biasanya muncul tanda-tanda aus seperti aliran susu yang terlalu cepat karena lubangnya membesar, perubahan warna karena dot, dan penipisan. Untuk menguji kekuatan dot, tarik dengan kuat. Puting dot seharusnya kembali ke bentuk aslinya.
  2. Dot menjadi lengket atau membesar
  3. Dot retak, robek, atau pecah
  4. Cari tanda-tanda keretakan pada botol
  5. Cek lapisan jamur atau kerak susu.

Waspada Bahaya Asam Mefenamat bagi Ibu Hamil

Beredarnya obat-obatan bebas yang dijual di pasaran, belum hal tersebut tidak menjadi kepastian bahwa obat tersebut bebas dari bahaya jika dikonsumsi. Khususnya untuk ibu hamil yang perlu untuk memperhatikan segala yang dikonsumsi agar janin dalam kandungannya tumbuh dengan sehat. Salah satu obat yang dijual bebas dan berbahaya bagi ibu hamil, yaitu asam mefenamat.

Asam mefenamat adalah obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) yang memiliki fungsi untuk mengatasi rasa nyeri ringan hingga sedang, seperti nyeri karena sakit kepala maupun sakit gigi. Selain itu, obat ini juga sering dikonsumsi untuk meredakan peradangan dan nyeri pasca operasi. Fungsi lain yang sering dimanfaatkan dari asam mefenamat, yaitu untuk meredakan nyeri ketika menstruasi.

Kandungan asam mefenamat ini dapat Anda temukan di berbagai merek, seperti Ponstan, Mefinal, Allogon, Asimat, Dagosic, Maxtan, Lapistan, Solasic, dan Tropistan.

Mengapa asam mefenamat dilarang untuk dikonsumsi oleh ibu hamil?

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa asam mefenamat yang dikonsumsi oleh ibu hamil dapat berdampak negatif pada janinnya. Efek samping yang mungkin dapat terjadi, antara lain menyebabkan keguguran pada kandungan hingga kelahiran prematur.

Jika Anda memperhatikan kemasan obat yang mengandung asam mefenamat, terdapat peringatan bahwa obat ini tidak diperbolehkan untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti sakit radang usus, ginjal, asma, termasuk ibu mengandung dan menyusui. Di samping itu, mengonsumsi obat ini tanpa resep dokter dapat berisiko pada kesehatan Anda. Efek samping yang telah diketahui sejauh dari obat ini, antara lain nyeri perut, mual, diare, hingga nyeri pada ulu hati.

Walaupun begitu, dalam kasus tertentu dokter dapat saja meresepkan asam mefenamat pada ibu hamil jika pasien berada dalam kondisi gawat darurat, yang mana obat pereda nyeri lainnya tidak cukup efektif mengatasi rasa sakit tersebut.

Resep untuk asam mefenamat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jika selama tujuh hari ibu hamil mengonsumsi asam mefenamat, namun sakitnya tidak kunjung reda, maka segera berkonsultasi dengan dokter. Pasalnya, obat ini tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi lebih dari satu minggu.