Perbedaan Ambroxol atau Golongan Obat Mukolitik dengan Ekspektoran

Dalam iklan obat batuk mungkin kita sering mendengar istilah ‘mukolitik’ dan ‘ekspektoran’ karena kedua istilah itu adalah golongan obat yang dijadikan pembeda dalam industri obat batuk. Keduanya memiliki fungsi yang hampir sama, tetapi keduanya sebenarnya berbeda. Salah satu obat yang dapat dikatakan mewakili kelompok mukolitik adalah Ambroxol, sementara ekspektoran bisa diwakili oleh Glyceryl Guaiacolate.

Dalam industri obat batuk, perusahaan farmasi memiliki semacam klasifikasi dalam meracik produknya. Ada dua klasifikasi utama, kelas pertama adalah obat batuk berdahak. Kelas kedua adalah obat batuk kering atau tidak berdahak. Mukolitik dengan ekspektoran masuk ke dalam kelas yang pertama. Dua kelompok itu, mukolitik dan ekspektoran, memiliki fungsi utama untuk meredakan batuk berdahak. Perbedaan masing-masing kelas, juga kelompok, dalam industri obat batuk ini terletak pada kandungan utama yang digunakan.

Mari kita lupakan sejenak batuk kering, karena artikel ini akan membahas mengenai batuk berdahak—utamanya dalam ranah pengobatan, termasuk dua kelompok utama dalam kelas ini, yakni mukolitik dan ekspektoran.

  • Apa itu batuk berdahak?

Secara sederhana, batuk berdahak dapat dipahami sebagai batuk yang disertai dengan adanya dahak atau lendir di saluran pernapasan kita. Lendir ini diproduksi dan keluar dari paru-paru untuk terus mengalir sampai ke belakang tenggorokan. Jika tidak diatasi, lendir atau dahak ini akan menumpuk sehingga terasa mengganjal di pangkal tenggorokan atau berjejal di dada.

Batuk berdahak dipicu atau disebabkan oleh infeksi mikroorganisme seperti bakteri atau virus. Ketika tubuh terinfeksi, respons alami tubuh akan memproduksi lendir lebih banyak dari biasanya untuk menjebak sekaligus membuang sumber infeksi itu keluar dari tubuh.

Masalahnya, perjalanan lendir untuk keluar dari tubuh kerap tidak lancar sehingga seseorang membutuhkan sesuatu yang dapat membantu dahak tersebut lebih mudah dibuang. Nah, disinilah peran obat mukolitik dan juga ekspektoran.

  • Sekilas mengenai ekspektoran

Ekspektoran dapat merangsang batuk lebih efektif serta membantu mengencerkan dan meningkatkan produksi dahak di saluran pernapasan. Sehingga dahak bisa dikeluarkan lebih mudah dan cepat. Ekspektoran memiliki fungsi utama membentuk massa dahak agar mudah dikeluarkan. 

Cara kerja ekspektoran adalah dengan merangsang saraf kelenjar bronchial, sehingga sekret yang dikeluarkan menjadi lebih banyak. Ekspektoran mengandung bahan aktif, yang paling umum adalah guaifenesin. Guaifenesin berfungsi untuk mengencerkan dahak di saluran napas. Guaifenesin juga bekerja secara langsung dengan merangsang produksi kelenjar bronchial.

  • Sekilas mengenai mukolitik

Obat batuk mukolitik sebenarnya mempunyai fungsi sama, yaitu untuk mempermudah pengeluaran dahak, tetapi secara lebih jauh mukolitik bekerja dengan cara mengencerkan massa dahak sehingga mudah untuk dibatukkan. Namun, cara kerja mukolitik dengan ekspektoran berbeda. 

Mukolitik bekerja dengan cara memecah ikatan protein pada dahak, sehingga dahak lebih encer dan mudah dikeluarkan. Walaupun bersifat mengurangi kekentalan dahak dan menyebabkan kesan subjektif yang positif pada pasien, obat ini tidak dapat memberikan perbaikan yang konsisten terhadap fungsi paru. Mukolitik yang dikenal di Indonesia antara lain: amboxol, bromhexin dan n-asetil sistein.

  • Mengenal Ambroxol

Selain menjadi salah satu obat utama dalam batuk berdahak, Ambroxol juga dapat untuk mengatasi gangguan pernapasan lain akibat produksi dahak yang berlebihan, seperti pada penyakit bronkiektasis, karena obat ini bekerja untuk mengencerkan dahak.

Ambroxol membantu mengencerkan dahak agar lebih mudah dikeluarkan dari tenggorokan saat batuk. Dengan demikian, saluran pernapasan pun lebih terbuka dan terasa lega. Ambroxol tersedia dalam bentuk tablet dan sirup. Obat ini dapat dikonsumsi oleh dewasa dan anak-anak.

Menurut FDA atau badan yang berwenang mengawasi peredaran obat dan makanan di Amerika, Ambroxol digolongkan ke dalam kategori C bagi kehamilan. Artinya, ibu hamil perlu mewaspadai obat ini karena diyakini dapat berisiko tinggi bagi janin. Selain itu, Ambroxol juga terserap ke dalam ASI. Maka dari itu jika seseorang sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter terlebih dahulu.

Hal yang Harus Dihindari Ketika Mengkonsumsi Dexchlorpheniramine

Alergi merupakan respon tubuh terhadap suatu benda pemicu alergi (alergen) yang sebenarnya tidak membahayakan. Reaksi alergi dapat muncul dalam berbagai bentuk, misalnya yang paling umum adalah ruam kulit, gatal-gatal, dan kulit bengkak.

Alergi yang datang secara tiba-tiba membuat seseorang kesulitan beraktivitas. Untuk meredakan gejala alergi, dokter biasanya meresepkan obat antihistamin yang disebut dexchlorpheniramine. Antihistamin bekerja menghambat senyawa histamin yang dilepaskan ketika alergi terjadi. 

Kegunaan dexchlorpheniramine

Dengan memblokir pelepasan histamin, dexchlorpheniramine membantu meredakan gejala alergi. Obat ini juga menghambat asetilkolin yang diproduksi secara alami di dalam tubuh. Dengan dua sifat ini, dexchlorpheniramine juga dapat meredakan demam dan flu biasa. 

Beberapa kondisi yang bisa ditangani dexchlorpheniramine antara lain:

  • Ruam kulit
  • Mata berair
  • Gatal pada mata, hidung, tenggorokan, atau kulit
  • Batuk
  • Pilek
  • Bersin-bersin

Cara penggunaan dexchlorpheniramine dan efek sampingnya

Penggunaan antihistamin terbagi menjadi beberapa kondisi di bawah ini:

  • Setiap hari, untuk membantu mengendalikan gejala alergi harian
  • Hanya jika mengalami gejala
  • Sebelum terpapar alergen, termasuk makanan, hewan peliharaan, atau tumbuhan tertentu

Dexchlorpheniramine tersedia dalam bentuk obat tablet dan sirup. Dexchlorpheniramine sirup biasanya dikonsumsi biasanya setiap 4 hingga 6 jam, dan sediaan tablet diminum dua atau tiga kali sehari sesuai kebutuhan. Kebanyakan pasien alergi mengalami gejala yang paling buruk sekitar pukul 4-6 pagi. 

Ketika Anda mengonsumsi obat tablet, jangan kunyah atau menghancurkannya terlebih dahulu. Dexchlorpheniramine  akan bekerja secara efektif jika langsung ditelan. Jika Anda mengalami sakit perut, dexchlorpheniramine dapat diminum bersama dengan makanan. 

Untuk bentuk sediaan sirup, gunakan alat ukur atau sendok khusus agar konsumsinya sesuai dengan dosis yang disarankan. Dosis akan didasarkan pada kondisi medis, usia, dan respon pasien terhadap pengobatan. 

Meski dapat meredakan batuk dan pilek, penggunaannya belum terbukti aman dan efektif untuk anak di bawah 6 tahun. Dexchlorpheniramine sediaan tablet atau kapsul juga tidak direkomendasikan untuk anak di bawah 12 tahun. Penggunaannya hanya diperbolehkan berdasarkan anjuran dokter. 

Seperti antihistamin lainnya, dexchlorpheniramine dapat menyebabkan kantuk. Sebelum tidur adalah waktu terbaik mengonsumsi antihistamin karena membantu tidur lebih pulas dan membuat tubuh lebih bugar keesokan harinya. 

Namun mengonsumsi dexchlorpheniramine di siang hari cukup berbahaya apalagi jika aktivitas Anda berkaitan dengan fokus tinggi dan risiko kecelakaan, misalnya mengemudi kendaraan atau mengoperasikan mesin.

Beberapa orang juga dapat alergi terhadap dexchlorpheniramine. Efek samping lain yang bisa terjadi antara lain:

  • Kelelahan
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Mulut kering
  • Sulit buang air kecil
  • Kejang
  • Detak jantung tidak teratur
  • Perubahan suasana hati secara tiba-tiba

Pantangan ketika mengonsumsi dexchlorpheniramine

Karena efek sampingnya, orang yang menggunakan dexchlorpheniramine diharapkan untuk tidak melakukan aktivitas berbahaya setelah mengonsumsi obat tersebut, misalnya mengoperasikan mesin dan mengemudi. 

Anda juga harus menghindari konsumsi minuman atau makanan beralkohol karena alkohol dapat meningkatkan rasa kantuk dan pusing. Beberapa jenis obat juga dapat menghasilkan interaksi negatif jika dikombinasikan dengan dexchlorpheniramine, antara lain:

  • Obat-obatan anti-kecemasan atau obat tidur seperti alprazolam, diazepam, dan lainnya
  • Obat untuk mengatasi depresi
  • Obat lain dengan efek samping kantuk atau rileks

Jika Anda juga mengonsumsi monoamine oxidase inhibitor (MAOI) seperti isocarboxazid, phenelzine, atau tranylcypromine, penggunaan dexchlorpheniramine harus ditunda selama 14 hari setelah penggunaan terakhir MAOI. 

Beberapa kondisi medis juga tidak disarankan untuk menggunakan dexchlorpheniramine. Konsultasikan dengan dokter jika Anda memiliki riwayat medis tertentu.

Erythromycin

erythromycin

Erythromycin merupakan jenis obat yang dapat mengatasi infeksi bakteri pada tubuh manusia seperti infeksi saluran pernafasan dan infeksi kulit. Merek-merek obat erythromycin yang ada di Indonesia adalah Dothrocyn, Erysanbe, Narlecin, dan Trovilon.

Kegunaan Obat Erythromycin

Obat erythromycin merupakan salah satu obat yang dikategorikan sebagai obat antibiotik makrolida. Obat tersebut bekerja dengan membunuh bakteri dan mencegah pertumbuhan di dalam tubuh manusia.

Kemasan Obat Erythromycin

Obat erythromycin dapat diperoleh melalui resep dokter karena obat tersebut perlu digunakan dengan hati-hati. Obat tersebut tersedia baik dalam kemasan tablet maupun kapsul dan dapat digunakan oleh anak-anak dan orang dewasa.

Dosis Obat Erythromycin

Jika Anda ingin menggunakan obat erythromycin, Anda perlu pahami bahwa obat tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda bagi setiap orang. Oleh karena itu, berikut adalah dosis yang sebaiknya digunakan jika pasien mengalami kondisi berikut:

  • Infeksi saluran pernafasan dan kulit

Jika pasien mengalami kondisi tersebut, maka dosisnya sebanyak 1 hingga 2 gram setiap hari (khusus pasien dewasa). Jika pasien merupakan anak-anak, maka dosisnya sebanyak 30 hingga 50 mg/kg setiap hari. Jika usia pasien di bawah 2 tahun, maka dosisnya sebanyak 500 mg setiap hari. Jika usia pasien di antara 2 hingga 8 tahun, maka dosisnya sebanyak 1 gram setiap hari.

  • Infeksi berat

Jika pasien mengalami kondisi tersebut, maka dosisnya sebanyak 15 hingga 20 mg/kg setiap hari (khusus pasien dewasa). Jika pasien merupakan anak-anak, maka dosisnya sebanyak 12,5 mg/kg yang dikonsumsi 4 kali setiap hari.

Efek Samping Obat Erythromycin

Sama seperti obat lain, obat erythromycin juga dapat menimbulkan efek samping berupa sakit perut, diare, mual, muntah, dan kehilangan nafsu makan. Pasien juga bisa mengalami efek samping yang lebih serius (walaupun jarang terjadi) berupa:

  • Artikulasi bicara yang tidak jelas.
  • Gangguan pendengaran.
  • Kelemahan otot.

Jika kondisi pasien memburuk atau pasien mengalami efek samping lain, pasien perlu hubungi dokter supaya kondisinya dapat ditangani lebih lanjut oleh tim medis.

Jika Anda mengalami efek samping karena menggunakan obat erythromycin dan ingin bertemu dokter, pastikan Anda tidak lupa untuk beritahu dokter jika Anda mengalami kondisi berikut:

  • Kehamilan dan menyusui.
  • Penyakit otot.
  • Penyakit ginjal.
  • Kerusakan hati.

Anda sangat tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi obat erythromycin jika Anda mengalami kondisi medis berikut:

  • Hipersensitivitas terhadap obat antibiotik makrolida lain seperti azitromisin.
  • Menerima astemizole dan primozide.

Interaksi dengan Obat Lain

Selain kondisi, Anda juga perlu pahami bahwa obat erythromycin dapat menimbulkan kondisi lain pada tubuh Anda jika dikonsumsi dengan obat lain. Oleh karena itu, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter tentang dosis obat yang sebaiknya digunakan. Dokter mungkin akan mengurangi dosis obat erythromycin untuk menjaga kondisi Anda. Berikut adalah obat-obatan yang sebaiknya tidak Anda gunakan:

  • Antikoagulan oral

Jika Anda menggunakan obat tersebut dengan obat erythromycin, maka Anda bisa mengalami peningkatan pendarahan.

  • Cimetidine

Jika Anda mengkonsumsi obat tersebut dengan obat erythromycin, maka Anda bisa mengalami peningkatan efektivitas eritromisin.

  • Teofilin

Jika Anda mengkonsumsi obat tersebut dengan obat erythromycin, maka Anda bisa mengalami penurunan efektivitas eritromisin.

Jika Kondisi Anda Memburuk

Jika kondisi Anda memburuk, Anda sebaiknya temui dokter. Sebelum Anda melakukannya, Anda dapat mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda tanyakan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat menentukan pengobatan yang lebih cocok untuk mengatasi kondisi yang Anda alami.

Kesimpulan

Obat erythromycin dapat mengatasi infeksi pada tubuh manusia. Meskipun demikian, obat tersebut dapat menimbulkan efek samping dan tidak dapat digunakan dengan obat-obatan tertentu secara bersamaan. Untuk informasi lebih lanjut tentang obat erythromycin atau infeksi bakteri pada tubuh, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Obat Pantropazole, Kenali Kegunaan dan Efek Sampingnya

pantoprazole

Asam lambung yang meningkat tentu terasa sangat mengganggu dan tidak nyaman. Salah satu obat yang dapat meredakan keluhan dan gejala meningkatkan produksi asam lambung adalah pantoprazole. Selain itu, obat ini juga bisa digunakan untuk pengobatan GERD, tukak lambung, esofagitis erosif, serta zollinger-ellison.

Cara kerja obat ini adalah dengan mengurangi produksi asam lambung dan dapat membantu mengurangi gejala dan mencegah agar dinding lambung dan kerongkongan tidak mengalami kerusakan lebih lanjut.

Cara Mengonsumsi Pantoprazole dengan Benar

Sebelum menggunakan obat ini, pastikan Anda mengikuti anjuran dan aturan pakai yang tersedia di kemasan obat.

Obat pantoprazole dalam bentuk tablet bisa dikonsumsi sebelum atau sesudah makan. Tablet tersebut ditelat secara utuh dengan bantuan air, bukan dihancurkan, dikunyha, atau dibelah karena efektifitas obat akan berkurang.

Penting juga untuk menghindari atau mengurangi makanan dan minuman yang dapat memperburuk gejala asam lambung yang dialami. Makanan atau minuman yang dimaksud adalah makanan pedas, alkohol, minuman panas, kopi, tomat, hingga coklat. Anda juga sebaiknya menghindari rokok untuk sementara waktu.

Pasien yang menderita refluks asam lambung sebaiknya menurunkan berat badan jika obesitas dan konsumsi makanan sehat agar gejala bisa lebih ringan.

Untuk mendapatkan efek yang optimal dan maksimal, pastikan untuk mengonsumsi pantoprazole tablet di waktu dan jam yang sama setiap harinya. Jika Anda lupa, segera konsumsi jika jeda dengan jadwal minum obat berikutnya masih lama. Akan tetapi jika sudah dekat, maka bisa diabaikan saja agar dosis tidak menjadi ganda.

Efek Samping Pantoprazole

Ada beberapa efek samping pantoprazole yang umum terjadi seperti:

  • Adanya perubahan berat badan
  • Mengalami sakit perut dan kentut
  • Mengalami mual, muntah, dan diare
  • Terasa nyeri sendi
  • Pusing, merasa lelah, dan kelelahan
  • Mengalami insomnia alias sulit tidur

Akan tetapi, jika efek samping yang dialami mengarah pada gejala kekurangan magnesium, maka segeralah hubungi dokter. Gejala tersebut adalah:

  • Merasa gelisah
  • Detak jantung cepat atau tidak seperti biasanya
  • Gerakan otot yang menyentak
  • Merasa tersedak atau batuk
  • Mengalami diaren berdarah atau berair
  • Mengalami kram otot, perasaan lemas, atau kelemahan otot
  • Sulit berkonsentrasi, kepala sakit, memiliki masalah memori, kelemahan, merasa goyah, kehilangan nafsu makan, pingsan, halusinasi, kejang, hingga pernapasan dangkal.

Namun, perlu diingat bahwa tidak semua orang yang mengonsumsi obat akan mengalami efek samping ini. Ada pula efek samping yang mungkin tidak terdaftar di atas. Maka, jika Anda merasakan efek samping tertentu, segera konsultasikan dengan dokter.

Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan

Sebelum mengonsumsi obat ini, beritahukan pada dokter terkait riwayat penyakit Anda, terlebih jika mengalami kondisi kanker lambung dan atau dalam masa kehamilan.

Anda juga dilarang mengonsumsi obat ini jika memiliki kondisi medis seperti:

  • Laktasi
  • Dalam penggunaan bersama rilpivirine, nelfinavir, dan atazanavir

Obat ini juga dilarang digunakan bersamaan dengan obat berikut ini karena dapat menimbulkan interaksi, seperti:

  • Jika dikonsumsi dengan warfarin, maka akan terdapat peningkatan perdarahan
  • Jika dikonsumsi dengan digoxin, maka akan terdapat peningkatan efek kardiotoksik
  • Bila dikonsumsi dengan obat diuretik, maka akan terjadi peningkatan risiko hipomagnesemia
  • Jika dikonsumsi bersamaan dengan sukralfat, maka bisa menyebabkan penurunan penyerapan.

Perlu sekali lagi diingat bahwa informasi pada artikel ini bukanlah pengganti konsultasi dengan dokter. Mengonsumsi obat sebaiknya dengan resep dokter. Termasuk penggunaan obat pantoprazole ini.

Antiplatelet, Obat Pengencer Darah untuk Atasi Penggumpalan Darah

Antiplatelet, Obat Pengencer Darah untuk Atasi Penggumpalan Darah

Saat Anda menderita kondisi yang menyebabkan penggumpalan darah, dokter Anda mungkin akan merekomendasikan pengobatan dengan konsumsi antiplatelet. Antiplatelet merupakan obat pengencer darah yang membantu melancarkan aliran darah Anda dan menghindarkan dari resiko darah yang menggumpal.

Meski disebut sebagai obat pengencer darah, obat ini tidak akan benar-benar membuat tekstur darah Anda menjadi encer. Obat ini bekerja dengan mengatasi gumpalan yang biasanya menghambat sirkulasi darah dan menyebabkan serangan jantung serta stroke

Manfaat menggunakan obat antiplatelet

Antiplatelet bekerja dengan menghentikan sel-sel dalam darah yang disebut dengan trombosit agar tidak saling menempel dan membentuk gumpalan. Obat ini bisa digunakan dalam dosis rendah maupun dosis tinggi, tergantung kondisi Anda. 

Biasanya, obat jenis ini diresepkan ketika Anda mengalami tanda-tanda penyakit yang membuat Anda beresiko terkena penyakit jantung. Secara khusus, obat ini akan diberikan pada Anda yang mengalami:

  • Penyakit jantung
  • Masalah dalam sirkulasi darah
  • Detak jantung yang abnormal
  • Kelainan jantung bawaan 
  • Penyakit arteri perifer
  • Nyeri dada

Tidak hanya itu, terkadang antiplatelet juga diberikan bagi pasien yang baru saja menjalani operasi tertentu, seperti angioplasti dan operasi bypass jantung atau penggantian katup. 

Obat pengencer darah yang paling umum digunakan adalah aspirin. Aspirin memiliki dosis yang cenderung rendah dan bisa Anda dapatkan dengan bebas di apotek.

Selain itu, warfarin juga menjadi salah satu jenis obat pengencer darah yang cukup umum digunakan. Apabila Anda mengonsumsi warfarin, Anda harus melakukan tes darah rutin untuk membantu dokter dalam mengetahui apakah obat tersebut berada pada tingkat yang tepat bagi tubuh Anda. 

Efek samping dan resiko penggunaan antiplatelet

Setiap jenis obat pasti memiliki efek samping dan resiko penggunaan. Hal ini pun berlaku juga untuk antiplatelet. Beberapa efek samping penggunaan obat pengencer darah bisa menimbulkan efek serius.

Ada beberapa gejala yang menandakan bahwa obat pengencer darah menimbulkan efek samping bagi Anda. Gejala tersebut antara lain: 

  • Perubahan warna urin menjadi merah atau merah muda
  • Pendarahan yang lebih banyak selama periode menstruasi
  • Perubahan warna jari kaki menjadi keunguan
  • Kotoran yang berdarah atau terlihat seperti bubuk kopi
  • Peningkatan memar pada kulit
  • Nyeri dan perubahan suhu tubuh
  • Kehitangan di jari tangan, jari kaki, tangan dan kaki

Karena efek samping ini, setiap orang mungkin memiliki peningkatan resiko untuk mengalami komplikasi saat penggunaanya. Dalam beberapa kasus, efek samping ini bisa berujung pada gangguan pendarahan, diabetes, tekanan darah tinggi, masalah keseimbangan, masalah hati atau ginjal, dan gagal jantung.

Secara khusus, efek samping ini bisa semakin buruk bagi Anda yang menderita asma dan memiliki alergi. Oleh sebab itu, selalu konsultasikan penggunaan antiplatelet dengan dokter Anda. 

Pemakaian antiplatelet untuk wanita hamil dan menyusui

Jika Anda berada di tengah masa kehamilan dan menyusui, sebaiknya bicarakan dengan dokter Anda mengenai pemakaian antiplatelet. Bila Anda mengonsumsi obat pengencer darah dua minggu menjelang operasi kelahiran, Anda beresiko mengalami masalah pendarahan saat proses persalinan.

Mengenal Obat Domperidone yang Kerap Digunakan Setelah Kemoterapi

Mungkin Anda seringkali mendengar istilah kemoterapi. Prosedur medis kemoterapi adalah suatu terapi khusus yang ditujukan untuk pasien kanker dengan menggunakan obat, baik obat hanya satu jenis obat maupun kombinasi obat.

Efek samping yang banyak dirasakan oleh pasien, antara lain mual dan muntah. Salah satu cara untuk mengatasi rasa tidak nyaman ini adalah dengan mengonsumsi obat bernama domperidone.

Memang, mual dan muntah memang tidak selalu terjadi pada seseorang yang baru saja menjalani kemoterapi. Beberapa faktor yang memicu kondisi ini, antara lain:

  • Dosis obat yang digunakan ketika kemo: semakin tinggi dosis, semakin besar pula risiko pasien mengalami efek samping mual dan muntah.
  • Jenis obat yang digunakan ketika kemo.
  • Faktor kondisi kesehatan: tiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap obat yang digunakan.
  • Terdapat tumor atau tidak pada otak pasien.
  • Waktu, frekuensi, dan cara pemberian obat. Cara pemberian obat yang dilakukan secara intravena berisiko menimbulkan mual dan muntah, jika dibanding dengan pemberian obat secara oral. Dua obat kemoterapi yang diberikan dalam jangka waktu yang berdekatan, dapat menimbulkan reaksi tertentu.
  • Mengonsumsi jenis obat lain, seperti obat anti nyeri.

Di samping faktor yang telah disebutkan di atas, terdapat juga faktor lain yang dapat menyebabkan mual dan muntah selama menjalani kemoterapi, antara lain:

  • Jenis kelamin tertentu, terutama perempuan.
  • Faktor usia, umumnya lebih muda dari 50 tahun.
  • Mengalami morning sickness ketika mengandung.
  • Seringkali mengalami mabuk darat atau mabuk perjalanan.
  • Riwayat pernah menjalani kemoterapi sebelumnya.
  • Rasa gelisah dan khawatir.

Domperidone adalah jenis obat antiemetik atau anti muntah yang umum digunakan untuk mengatasi mual dan muntah. Obat ini bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor dopamin di pusat muntah pada otak, sehingga rangsangan mual dan muntah dapat dicegah.

Pemberian obat domperidone harus digunakan sebelum menjalani kemoterapi. Setelah itu, pemakaian diteruskan selama obat kemoterapi memiliki potensi memicu mual dan muntah, selama sekitar seminggu setelah dosis terapi terakhir dilakukan. Penggunaan obat ini terus dikonsumsi tiap kali siklus kemoterapi dilakukan.