Mengenal Pemeriksaan USG 3 Dimensi untuk Kehamilan

Zaman sekarang, melakukan pemeriksaan USG kehamilan sudah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan oleh para bumil. Tidak hanya memeriksa kondisi kesehatan janin di dalam kandungan, Anda juga bisa melihat wajah Si Kecil yang menggemaskan layaknya foto asli. Tentunya, hal ini membuat para calon ibu selalu menanti-nantikan untuk melakukan USG demi melihat wajah imut sang buah hati dan mengabadikannya sebagai kenang-kenangan. Pemeriksaan USG terus saja berkembang, hingga saat ini yang banyak dimintai oleh para calon ibu adalah USG 3 Dimensi.

usg 3 dimensi

Apa itu pemeriksaan USG?

Ultrasonografi (USG) merupakan suatu prosedur yang dilakukan di atas permukaan kulit atau rongga tubuh untuk melihat struktur dan jaringan tubuh melalui gelombang Doppler. Pemeriksaan USG pada masa kehamilan dilakukan pada setiap trimester dengan tujuan yang berbeda-beda. Menurut dr. Rudiyanti, Sp. OG dalam Wellness and Healthy Magazine, tujuan melakukan USG pada trimester I adalah sebagai berikut.

  • Memastikan adanya kehamilan atau tidak.
  • Memprediksi usia kehamilan melalui ukuran bayi.
  • Melihat kondisi bayi jika ada dugaan kelainan bawaan.
  • Melihat penyebab perdarahan pada kehamilan muda atau kehamilan ektopik.
  • Menentukan posisi janin di dalam atau di luar rahim.
  • Memastikan adanya pergerakan janin.
  • Membantu menentukan diagnosa bayi kembar.

Sementara, pemeriksaan USG pada trimester II dan III bertujuan untuk:

  • Menilai jumlah air ketuban.
  • Melihat kondisi plasenta.
  • Menentukan ukuran janin.
  • Memeriksa kondisi janin melalui aktivitasnya di dalam rahim.
  • Menentukan posisi janin (sungsang, terlilit tali pusat, atau normal).
  • Melihat kemungkinan adanya tumor.

Mengenal pemeriksaan USG 3 Dimensi.

Sebelum USG 3 dimensi muncul, pemeriksaan USG hanya bisa dilakukan dengan 2 dimensi. Sebenarnya, prinsip kerja keduanya sama, yaitu menggunakan gelombang dengan frekuensi tinggi dan perangkat lunak pencitraan khusus untuk membuat gambar jaringan lunak, organ, dan anatomi bayi Anda. Hanya saja, USG 3 dimensi dapat menghasilkan gambar yang lebih tajam dan jelas untuk keseluruhan bayi di dalam rahim. Bahkan, hasil gambar USG 3 dimensi hampir menyerupai foto.

Seperti apa prosedur USG 3 dimensi?

Tidak jauh berbeda dengan prosedur USG 2 dimensi, pada USG 3 dimensi dokter akan mengoleskan gel di atas permukaan kulit perut Anda. Sebuah alat berupa transduser diarahkan ke area perut yang telah diolesi gel untuk mengirim gelombang suara ke bayi yang ada di dalam rahim Anda. Sinyal gelombang suara tersebut yang akan memberikan gambaran tentang kondisi bayi di dalam kandungan.

Waktu terbaik melakukan USG 3 Dimensi.

USG 3 dimensi tergolong aman, karena tidak menggunakan sinar X atau radiasi pengion. Selain itu, selama tidak keseringan, maka USG 3 dimensi boleh Anda lakukan. Para dokter menyarankan ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan USG setidaknya 3 kali selama kehamilan, yaitu pada awal kehamilan, pertengahan, dan sebelum hari kelahiran. Apabila Anda hamil bayi kembar, sebaiknya lakukan USG 3 dimensi saat usia kehamilan sekitar 27 minggu. Hal ini untuk memperoleh gambaran kondisi yang lebih jelas dari setiap bayi yang dikandung.

Wajah anak terlihat jelas dengan USG 3 dimensi.

Tidak sedikit ibu hamil yang ingin melihat wajah anaknya ketika di dalam rahim. Ada beberapa rekomendasi waktu terbaik untuk melakukan USG 3 dimensi, agar wajah anak dapat terlihat jelas.

  • Jika plasenta di depan rahim (plasenta anterior), Anda bisa mendapatkan gambar terbaik dari bayi Anda setelah berusia 28 minggu.
  • Bayi yang berbaring menghadap ke luar dengan genangan cairan ketuban yang banyak di sekitar wajahnya, maka bentuk wajahnya dapat dilihat dengan jelas.
  • Apabila bayi menghadap ke belakang, posisi kepala jauh di bawah panggul, dan tidak banyak cairan ketuban di sekitarnya, maka wajah bayi tidak dapat dilihat jelas. Begitu pula jika Anda memiliki banyak lemak di area perut.

Di sisi lain, bisa saja ketika Anda melakukan pemeriksaan USG 3 dimensi, Anda belum bisa melihat wajah Si Kecil dengan jelas, karena posisinya yang masih ‘bersembunyi’ atau ‘malu-malu’. Dokter mungkin akan meminta Anda untuk berjalan-jalan, lalu kembali seminggu lagi ketika bayi Anda mungkin telah berada di posisi yang lebih baik, sehingga wajah anak bisa dilihat dengan jelas.

Catatan dari SehatQ

Pemeriksaan USG 3 dimensi tidaklah wajib Anda lakukan. Tanpa USG pun, Anda tetap bisa memantau pertumbuhan dan perkembangan Si Kecil dengan rutin konsultasi ke dokter kandungan. Jika ada indikasi gangguan atau cacat pada bayi, maka disarankan Anda melakukan USG untuk menentukan tindakan lanjut yang bisa diberikan. Tak kalah penting, Anda harus menjaga pola makan yang sehat untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil. Alhasil, kondisi anak di dalam kandungan pun sehat dan berisiko kecil mengalami cacat lahir.

Alami Tanda Limfangitis Ini, Segera Atasi

Secara kasat mata, limfangitis hanya terlihat sebagai kondisi peradangan biasa yang kerap menimbulkan bekas luka seperti sayatan. Padahal, ini termasuk jenis penyakit serius yang mesti sering ditangani. Ini karena limfangitis merupakan kondisi peradangan yang terjadi di saluran limfa yang sangat mungkin memengaruhi tingkat kekebalan tubuh Anda. Jika peradangan tidak dihentikan, kondisi tubuh Anda pun menjadi lebih lemah dan lebih mudah terkena infeksi dan penyakit lain.

limfangitis

Virus dan bakteri menjadi mikroorganisme yang menyebabkan peradangan di saluran limfa tersebut. Mereka masuk dari adanya luka di daerah-daerah saluran limfa, bisa akibat luka karena sayatan ataupun luka bekas operasi. Bahkan gigitan nyamuk juga bisa memudahkan virus dan bakteri masuk ke saluran tersebut dan menimbulkan risiko limfangitis.

Pengobatan secara cepat dan tepat mesti segera dilakukan agar peradangan di saluran limfa tidak semakin parah. Karena itu, jika Anda mengalami gejala-gejala di bawah ini, pemeriksaaan kesehatan secara menyeluruh ke dokter perlu segera dilakukan.

  1. Garis Merah pada Kulit

Infeksi pada saluran limfa umumnya akan membuat bekas sayatan terlihat di kulit Anda. Bekas tersebut secara umum tampak seperti garis merah biasa. Hanya saja garis-garis merah tersebut terasa berada di area sekitar saluran limfa, seperti di bagian sisi-sisi tubuh, di mulai dari leher, ketiak, bagian pinggir pinggir, sampai ke pangkal paha.

Jika Anda memiliki gejala garis merah ini, coba lakukan analisis pribadi. Jika garis merah semakin menyebar dan terasa panas, sangat mungkin itu merupakan peradangan yang tengah terjadi di saluran limfa Anda.

  • Pembengkakan

Tidak hanya berupa garis merah, tanda inflamasi pada saluran limfa juga kerap memunculkan bengkak. Posisi pembengkakan pada penderita limfangitis umumnya tidak jauh dari kondisi garis kemerahan yang timbul.

Daerah ketiak dan pangkal paha menjadi kawasan yang paling rentan mengalami pembengkakan akibat adanya peradangan di saluran limfa. Bahkan tidak jarang ditemui, pembengkakan yang terjadi juga kerap menimbulkan benjolan yang cukup besar.

  • Nyeri Otot

Saluran limfa sangat berdekatan dengan otot-otot gerak dalam tubuh. Karena itu menjadi tidak mengherankan, ketika saluran limfa mengalami kondisi peradangan, otot-otot yang ada di sekitarnya juga akan merasakan dampak.

Para penderita limfangitis, rasa sakit yang dirasakan tidak sekadar di jalur saluran limfa. Penderita limfangitis juga kerap merasakan nyeri otot di daerah yang mengalami pembengkakan.

  • Demam Tinggi

Seperti peradangan pada umumnya, peradangan pada penderita limfangitis juga ikut memunculkan demam. Demam pada pasien-pasien limfangitis biasanya cukup tinggi dan berlangsung cukup lama.

Tidak jarang, demam yang Anda rasakan akibat adanya inflamasi pada saluran limfa diikuti oleh rasa dingin yang menusuk. Anda akan merasa menggigil, namun suhu tubuh Anda terus menanjak. Cobalah segera berkonsultasi ke dokter jika sudah masuk tahap ini karena Anda perlu segera mendapatkan penanganan medis yang tepat.

  • Nafsu Makan Menurun

Rasa sakit, nyeri, sampai demam yang Anda rasakan sebagai akibat dari adanya inflamasi di saluran limfa pada akhirnya akan memengaruhi tingkat nafsu makan Anda. Umumnya oran yang menderita limfangitis akan mengalami penurunan tingkat nafsu makan.

Anda akan merasa makanan yang Anda santap menjadi tidak enak. Namun, ini sama sekali tidak memperbaiki kondisi Anda. Jika Anda terus menuruti rasa tidak ingin makan termasuk, peradangan di saluran limfa justru semakin parah dan juga memengaruhi imunitas Anda yang memang sudah cenderung melemah akibat adanya inflamasi di saluran limfa.

*** Sudah berapa gejala limfangitis yang Anda alami? Tidak perlu menunggu mengalami semua gejala untuk pergi ke dokter. Jika Anda sudah merasa tidak nyaman dan ada yang aneh di tubuh Anda, segeralah melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan penanganan yang tepat.