Mengenal Tetrodotoxin, Rahasia Di Balik Keracunan Ikan Buntal

Ikan buntal merupakan salah satu hidangan unik dan menantang yang banyak menjadi favorit masyarakat Jepang. Meskipun memiliki rasa lezat, ikan ini memiliki risikonya sendiri, terutama apabila diolah dengan tidak tepat. Keracunan ikan buntal dapat menyebabkan kematian. Racun yang ditemukan di dalam ikan buntal disebut dengan nama tetrodotoxin. Ini adalah salah satu racun paling mematikan yang dapat ditemukan di alam. Mengingat banyak orang mulai gemar mengonsumsi ikan buntal, seorang koki harus benar-benar terlatih dalam menyajikan ini, mengingat salah penyajian dapat membahayakan nyama mereka yang mengonsumsinya. 

Gejala dan perawatan

Apabila seseorang keracunan ikan buntal, gejala akan muncul sekitar 10 hingga 45 menit setelah mengonsumsi racun ikan buntal tersebut. Gejala awal biasanya adalah mati rasa, kesemutan di sekitar mulut, keluar air liur, mual, dan muntah. Gejala yang dirasakan juga dapat berubah menjadi semakin parah, menyebabkan kelumpuhan, hilangnya kesadaran, kegagalan pernapasan, dan bahkan kematian. 

Perawatan pertama yang harus dilakukan saat seseorang keracunan ikan buntal adalah dengan memaksa penderita muntah apabila orang tersebut sadar dalam waktu 3 jam sejak ikan buntal dikonsumsi. Penderita dapat lumpuh, dengan pernapasan bantuan dapat menjaga penderita keracunan untuk tetap hidup hingga tenaga medis dan layanan kegawatdaruratan dari rumah sakit diberikan. Jika penderita keracunan ikan buntal muntah, tempatkan ia untuk berbaring di sisinya. 

Apa itu tetrodotoxin dan mengapa sangat berbahaya?

Tetrodotoxin ditemukan pada beberapa organ tubuh ikan buntal, termasuk ovarium dan hati. Neurotoxin yang sangat kuat ini, dalam bentuk yang murni, dapat membunuh orang dewasa hanya dalam dosis 2 miligram saja. Tetrodoxin jauh lebih beracun dan mematikan jika dibandingkan dengan arsenic dan sianida. Di dalam tubuh, tetrodotoxin akan menghambat saluran sodium yang membiarkan saraf untuk bekerja. Keracunan ikan buntal dapat membunuh seseorang karena tetrodotoxin dapat membuat saraf tidak lagi memicu pergerakan otot yang memberikan kontrol terhadap fungsi tubuh penting, seperti bernapas, sehingga seseorang yang keracunan ikan buntal tidak dapat bernapas. Racun dalam ikan buntal juga dapat menyebabkan kegagalan jantung. Tidak ada antidote untuk tetrodotoxin saat ini, dan perawatan pertama yang harus dilakukan saat seseorang keracunan ikan buntal adalah dengan memberikan pernapasan buatan hingga tubuh mengeluarkan racun secara alami. Untungnya, perawatan ini, apabila dilakukan dengan cepat, terbukti sangat berhasil, dengan banyak orang berhasil sembuh total dari keracunan ikan buntal. 

Racun sesungguhnya tidak diproduksi oleh ikan buntal itu sendiri, melainkan tetrodotoxin adalah produk dari bakteri lingkungan yang menumpuk di dalam tubuh ikan. Ikan buntal bukan satu-satunya spesies yang menyimpan tetrodotoxin dengan cara ini. Ada bukti bahwa makanan laut yang telah terkontaminasi tetrodotoxin telah menyebar hingga pesisir selatan Inggris. Dalam kasus ini, ikan yang terlibat bukanlah ikan buntal. Alih-alih tetrodotoxin terdeteksi pada moluska, seperti tiram pasifik, tiram asli, remis, dan kerang keras. 

Memberikan edukasi atau pendidikan terhadap orang-orang akan bahaya keracunan ikan buntal merupakan aspek yang sangat penting dalam pencegahan keracunan. “Screening” atau pemantauan lebih ketat juga dapat membantu menghentikan makanan yang terkontaminasi tetrodotoxin untuk terjual bebas di pasaran. Namun, mungkin ada beberapa cara dalam mengurangi level racun. Untuk mollusca, hal ini mungkin bukan sebuah perkara yang mudah, namun ada cara dalam membersihkan ikan buntal dari laut Mediterania (tempat di mana ikan tersebut banyak ditemukan), sehingga mengurangi risiko keracunan ikan buntal di daerah tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *