Metode Pembelajaran Jarak Jauh Turunkan Level Kecemasan Remaja

Metode Pembelajaran Jarak Jauh Turunkan Level Kecemasan Remaja

Sebuah grup peneliti di Inggris Barat Daya curiga bahwa remaja yang sedang mendapatkan metode pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19 berlangsung lebih memiliki rasa kecemasan. Mereka beralasan bahwa banyak anak dan remaja akan merasa khawatir akan teman dan keluarga yang sakit. Selain itu, mereka beranggapan bahwa remaja akan memiliki sedikit dukungan sosial akibat terisolasi di rumah. Akan tetapi, saat para peneliti melakukan survey, yang mereka temukan nyatanya cukup mengejutkan. Para siswa cenderung mengalami sedikit kecemasan berkat metode pembelajaran jarak jauh. Selain itu, para siswa juga mendapatkan manfaat lain, seperti perasaan kesehatan dan kesejahteraan yang lebih kuat. 

Studi tentang hubungan metode pembelajaran jarak jauh dan level kecemasan remaja tersebut dilakukan oleh para peneliti di Universitas Bristol. Studi ini memanfaatkan studi yang sedang berlangsung seputar penggunaan media sosial dan kesehatan mental remaja. Para peserta studi tersebut telah melakukan survey bahkan sebelum pandemi pada bulan Oktober 2019. Untuk menilai dampak pandemi, survey lain dilakukan pada bulan April dan Mei. Sekitar 1000 siswa dari sekolah-sekolah di Inggris Barat Daya terlibat dalam studi ini. 

Apa yang ditemukan oleh para peneliti?

Tim peneliti menemukan sekitar 54 persen siswa perempuan usia 13 hingga 14 tahun memiliki risiko kecemasan sebelum masa pandemi, dengan angka tersebut turun 10 persen pada saat lockdown. Sementara itu, pada grup siswa laki-laki, sebanyak 26 persen berada memiliki risiko kecemasan pada survey pertama, dengan angka menurun menjadi 18 persen pada masa lockdown. Namun, level depresi masih terlihat cukup konsisten, dengan siswa perempuan mengalami kenaikan 3 persen sementara siswa laki-laki mengalami penurunan depresi sebanyak 2 persen. 

Kebanyakan para siswa melaporkan adanya peningkatan kesejahteraan saat mereka berada pada lockdown. Dengan anak laki-laki melaporkan kemajuan yang lebih besar dibandingkan dengan anak perempuan. Kebanyakan para siswa juga melaporkan adanya hubungan yang lebih besar dengan sekolah mereka, dengan peningkatan kesempatan untuk berbicara dengan para guru. Sementara itu, pada anak perempuan, meningkatnya rasa kesejahteraan dan berkurangnya kecemasan dihubungkan dengan penggunaan sosial media yang semakin meningkat. 

Yang sekolah bisa pelajari dari studi ini

Emily Widnall, selaku ketua dari studi tersebut, mengatakan bahwa ia dan timnya terkejut saat mereka melihat hasil dari survey. Kebanyakan orang, termasuk pakar kesehatan anak, mengira mereka akan melihat adanya peningkatan angka kecemasan. Pihaknya kemudian menyatakan bahwa sekolah bagi banyak anak remaja dapat memicu terjadinya kecemasan, terutama yang berhubungan dengan tekanan ujian dan hubungan antar siswa yang menantang (misalnya karena perundungan). 

Emily Widnall kemudian menyatakan bahwa ia dan timnya akan melakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui mengapa lingkungan sekolah berkontribusi terhadap peningkatan kecemasan dan bagaimana budaya sekolah dapat lebih mendukung bagi kesehatan mental siswanya. Emily juga mengamini bahwa remaja lebih terhubung dibandingkan dengan sebelumnya meskipun mereka tidak bertatap muka dengan para guru secara langsung. Mungkin platform digital dapat memainkan peran yang lebih besar di masa depan dalam hal digunakan sebagai alat pembelajaran di sekolah. 

Metode pembelajaran jarak jauh tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah saja. Orang tua juga perlu terlibat dalam proses pembelajaran anak untuk mengurangi tingkat kecemasan yang mereka miliki, misalnya dengan memfasilitasi kontak media sosial serta meminta anak untuk mendapatkan rutinitas tidur, makan, dan olahraga yang lebih teratur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *