Benarkah Kecupan Bisa Menularkan Herpes pada Anak?

Seorang ibu muda di Inggris pernah menceritakan lewat media sosial bagaimana bayinya bisa tertular penyakit herpes pada anak. Akibat penyakit tersebut, bayinya yang berusia empat minggu harus dirawat di rumah sakit selama dua setengah bulan. Ibu tersebut mengatakan bahwa anaknya mulai menunjukkan gejala neonatal herpes setelah acara pembaptisan di mana saat acara tersebut anaknya dicium oleh banyak kerabat dan tamu-tamu.

Penyakit herpes menyerang mata anaknya, dengan gejala mata membengkak, berkerak dan muncul lepuhan di kelopak mata. Kemudian orang tuanya membawa anaknya berkonsultasi ke dokter dan ia diminta untuk segera membawa anaknya rumah sakit. Herpers pada anak atau neonatal herpes jika penderitanya adalah bayi yang baru lahir, disebabkan oleh herpes simplex virus (HSV).

Virus ini sangat mudah menular, jenis HSV-1 biasanya menyebabkan infeksi herpes di mulut dan jenis HSV-2 dapat menyebabkan infeksi herpes di kelamin. Saat seseorang tertular virus ini, maka virus akan selamanya berada di dalam tubuh dan bisa sewaktu-waktu menginfeksi. Penularan terjadi saat pembawa virus menderita infeksi.

Pada kasus ini, ia tertular HSV-1 karena seseorang yang sedang menderita infeksi herpes di mulut menciumnya di acara pembaptisan. Selain lewat ciuman, HSV-1 juga menulari bayi karena menyusui pada ibu yang menderita herpes dan punya lepuh di payudara. Sedangkan HSV-2 yang menyebabkan herpes kelamin bisa menular pada bayi saat proses persalinan normal lewat vagina. Herpes pada anak sangat berbahaya jika penderitanya masih bayi, karena bisa mengakibatkan disabilitas bahkan kematian.

Gejala-gejala herpes pada anak antara lain, bayi lesu atau rewel, tidak mau menyusui, demam, dan muncul ruam lepuh di mata, mulut atau di kulit. Pengobatan dilakukan dengan pemberian antivirus selama setidaknya beberapa minggu. Untuk mencegah penularan herpes pada anak, orang tua sebaiknya lebih selektif dalam mengijinkan orang lain menyentuh apalagi mencium si kecil. Selain itu, sebagai orang dewasa, lebih baik tahu diri dengan tidak mencium-cium bayi orang lain seberapa pun menggemaskannya. Jangan lupa juga untuk selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh bayi.

Gejala dan Komplikasi Akibat Lupus

Dalam dunia kedokteran, lupus dikenal sebagai “the great imitator”. Istilah ini diberikan karena gejala lupu yang begitu bervariasi dan dapat menyerupai banyak penyakit lain. Lupus adalah salah satu penyakit autoimun, yaitu ketika sistem kekebalan tubuh justru menyerang tubuh sendiri sehingga menyebabkan peradangan. Kondisi peradangan ini bisa muncul pada sendi, kulit, ginjal, jantung, paru-paru, pembuluh darah, otak dan ada beberapa gejala lupus yang perlu dicurigai.

Sampai saat ini, obat untuk menyembuhkan lupus belum ditemukan. Namun, lupus dapat dikendalikan dengan obat sehingga penderitanya tetap dapat hidup dengan sehat dan beraktivitas seperti biasa. Perjalanan penyakit lupus dapat terdiri dari periode sakit dan periode sehat. Selain itu, penderita lupus juga perlu mengidentifikasi cara untuk mencegah kekambuhan atau flare.

Gejala-gejala lupus

Gejala lupus yang timbul biasanya bergantung pada organ yang terkena atau mengalami peradangan. Berikut beberapa gejala kekambuhan atau flare yang paling sering dialami oleh penderita lupus:

  • Rasa lelah
  • Demam
  • Sendi terasa nyeri, kaku dan bengkak
  • Timbul bercak kemerahan pada wajah yang berbentuk seperti kupu-kupu, disebut malar rash. Bercak kemerahan terlihat meliputi kedua pipi dan hidung sehingga tampak seperti kupu-kupu.
  • Kelainan pada kulit yang memburuk jika terpapar sinar matahari
  • Sesak napas
  • Nyeri di dada
  • Mata terasa kering
  • Sakit kepala

Komplikasi yang bisa ditimbulkan lupus

Komplikasi mungkin timbul jika peradangan akibat lupus mengenai organ yang penting, atau jika radang yang terjadi berat, seperti:

  • Ginjal: lupus dapat menyebabkan kerusakan ginjal sehingga akhirnya menyebabkan gagal ginjal yang dapat berakibat fatal.
  • Otak: lupus dapat mengakibatkan sakit kepala, pusing, perubahan perilaku, gangguan penglihatan, stroke, atau kejang. Lupus juga dapat mengakibatkan gangguan ingatan dan kesulitan mengungkapkan pikiran.
  • Darah dan pembuluh darah: lupus dapat menyebabkan kelainan darah, seperti anemia, perdarahan, atau kelainan pembekuan darah. Radang pada pembuluh darah juga mungkin terjadi.
  • Paru-paru: radang pada organ rongga dada menyebabkan nyeri saat bernapas. Perdarahan paru serta pneumonia juga dapat terjadi.
  • Jantung: radang dapat terjadi pada selaput dan otak jantung, risiko serangan jantung juga meningkat.

Kenali Penyebab Terjadinya Emboli yang Sumbat Pembuluh Darah

Proses mengalirnya darah dalam tubuh berperan penting dalam kesehatan manusia. Pasalnya, darah mengangkut oksigen yang nantinya akan didistribusikan ke seluruh organ tubuh. Bayangkan jika pembuluh darah tersebut tersumbat oleh sesuatu, seperti adanya gelembung gas atau udara. Kondisi ini dalam dunia medis disebut dengan emboli.

Dalam tubuh manusia, terdapat tiga jenis pembuluh darah yang mengatur alirah darah dalam tubuh: vena, arteri, dan kapiler. Peran pembuluh darah vena yaitu mengalirkan darah ke jantung, sementara itu pembuluh darah arteri berperan untuk mengantar darah dari jantung ke seluruh tubuh. Dalam proses tersebut juga terdapat fungsi dari kapiler yang menjadi perantara antara pembuluh darah arteri dan vena yang bertugas untuk mengatur pasokan oksigen.

Apa yang menyebabkan emboli?

Emboli dapat terjadi saat terdapat zat asing masuk ke dalam aliran darah yang memicu penyumbatan pada pembuluh darah. Zat asing tersebut dapat berupa:

  • Air ketuban

Emboli yang disebabkan oleh air ketuban seringkali menimpa ibu hamil maupun ketika calon ibu menjalani proses melahirkan. Pada dasarnya, air ketuban menjadi pelindung janin. Namun, ia dapat sewaktu-waktu mengalami kebocoran. Terdapat kemungkinan bahwa air ketuban yang bocor tersebut mengalir ke pembuluh darah dan menyebabkan adanya penyumbatan.

  • Lemak

Kondisi ini rawan terjadi ketika seseorang mengalami patah tulang. Tulang yang patah dapat melepaskan lemak yang berada di dalamnya dan dapat larut dalam pembuluh darah. Pada akhirnya, lemak yang larut di dalamnya dapat menyumbat aliran darah dan menyebabkan emboli.

  • Kolesterol

Seseorang yang memiliki kolesterol tinggi berisiko untuk mengalami penyempitan pembuluh darah yang diakibatkan oleh penumpukan kolesterol. Dalam kasus yang lebih serius, tumpukan kolesterol tersebut dapat mengalir ke pembuluh darah yang mengakibatkan penyumbatan.

  • Gumpalan darah

Mekanisme alami tubuh ketika terjadi goresan adalah secara otomatis melakukan pembekuan darah. Namun, dalam kasus tertentu, pembekuan darah tersebut terjadi terlalu berlebihan. Hal tersebut dapat dilihat pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti pasien kanker, jantung, obesitas, dan juga ibu hamil. Pembekuan yang terjadi secara berlebihan, dapat mengganggu sirkulasi darah tubuh.

Ini 5 Tanda Dot Bayi Harus Diganti dengan yang Baru

Dot susu adalah benda yang paling sering digunakan pada bayi. Bagaimana tidak, dot bayi menjadi pengganti kehadiran bunda, yang dapat menyajikan susu sebagai satu-satunya makanan pokok bayi. Saat ini banyak jenis botol susu dan puting dot di pasaran, dari yang mahal hingga yang harganya lebih terjangkau. Namun, perlu diketahui selain menjaga kebersihannya setiap waktu, dot bayi juga memiliki masa pakai atau tanggal expired-nya.

Sayangnya, banyak orang tua yang tidak menyadari hal ini, lantaran masa expired botol bayi tidak berbanding lurus dengan perubahan bentuk fisiknya. Padahal kualitas botol susu pasti berkurang karena terus dipakai, sering dicuci atau selalu masuk dalam alat sterilisasi yang menggunakan suhu panas. Botol plastik memiliki masa pakai yang lebih pendek ketimbang botol kaca.

Masa ideal penggunaan dot bayi

Idealnya, botol susu hanya dipakai hingga enam bulan, Namun, Anda jangan bergantung pada patokan waktu, lihat juga kondisi dari bot bayi dan tanda-tanda kerusakan pada putting karet maupun ruang botolnya. Jika botol sudah berubah warna atau bentuk puting dot sudah rusak, Anda sebaiknya menggantinya dengan yang baru.

Selain itu, botol pun tidak luput dari ancaman jamur. Jika kaca atau plastik botol dipenuhi lapisan semacam kerak susu, namun sulit untuk dibersihkan, waspadai jika itu jamur dan sebaiknya jangan dipakai lagi. Pasalnya, jamur bisa muncul karena pencucian dan pengeringan botol yang tidak sempurna dan kondisinya lembap.

Tips memeriksa kondisi dot bayi

Jangan sepelekan penggantian botol susu bayi. Jika Anda tidak memperhatikan kondisi dot bayi, bayi Anda bisa saja terserang penyakit pencernaan seperti diare hingga gangguan usus atau gangguan kesehatan lain akibat kerusakan botol atau dot yang tidak kelihatan. Berikut beberapa tanda saat Anda harus mengganti botol susu bayi.

  1. Periksa puting dot setiap dua hingga tiga bulan, biasanya muncul tanda-tanda aus seperti aliran susu yang terlalu cepat karena lubangnya membesar, perubahan warna karena dot, dan penipisan. Untuk menguji kekuatan dot, tarik dengan kuat. Puting dot seharusnya kembali ke bentuk aslinya.
  2. Dot menjadi lengket atau membesar
  3. Dot retak, robek, atau pecah
  4. Cari tanda-tanda keretakan pada botol
  5. Cek lapisan jamur atau kerak susu.

Mengenal Obat Domperidone yang Kerap Digunakan Setelah Kemoterapi

Mungkin Anda seringkali mendengar istilah kemoterapi. Prosedur medis kemoterapi adalah suatu terapi khusus yang ditujukan untuk pasien kanker dengan menggunakan obat, baik obat hanya satu jenis obat maupun kombinasi obat.

Efek samping yang banyak dirasakan oleh pasien, antara lain mual dan muntah. Salah satu cara untuk mengatasi rasa tidak nyaman ini adalah dengan mengonsumsi obat bernama domperidone.

Memang, mual dan muntah memang tidak selalu terjadi pada seseorang yang baru saja menjalani kemoterapi. Beberapa faktor yang memicu kondisi ini, antara lain:

  • Dosis obat yang digunakan ketika kemo: semakin tinggi dosis, semakin besar pula risiko pasien mengalami efek samping mual dan muntah.
  • Jenis obat yang digunakan ketika kemo.
  • Faktor kondisi kesehatan: tiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap obat yang digunakan.
  • Terdapat tumor atau tidak pada otak pasien.
  • Waktu, frekuensi, dan cara pemberian obat. Cara pemberian obat yang dilakukan secara intravena berisiko menimbulkan mual dan muntah, jika dibanding dengan pemberian obat secara oral. Dua obat kemoterapi yang diberikan dalam jangka waktu yang berdekatan, dapat menimbulkan reaksi tertentu.
  • Mengonsumsi jenis obat lain, seperti obat anti nyeri.

Di samping faktor yang telah disebutkan di atas, terdapat juga faktor lain yang dapat menyebabkan mual dan muntah selama menjalani kemoterapi, antara lain:

  • Jenis kelamin tertentu, terutama perempuan.
  • Faktor usia, umumnya lebih muda dari 50 tahun.
  • Mengalami morning sickness ketika mengandung.
  • Seringkali mengalami mabuk darat atau mabuk perjalanan.
  • Riwayat pernah menjalani kemoterapi sebelumnya.
  • Rasa gelisah dan khawatir.

Domperidone adalah jenis obat antiemetik atau anti muntah yang umum digunakan untuk mengatasi mual dan muntah. Obat ini bekerja dengan cara berikatan dengan reseptor dopamin di pusat muntah pada otak, sehingga rangsangan mual dan muntah dapat dicegah.

Pemberian obat domperidone harus digunakan sebelum menjalani kemoterapi. Setelah itu, pemakaian diteruskan selama obat kemoterapi memiliki potensi memicu mual dan muntah, selama sekitar seminggu setelah dosis terapi terakhir dilakukan. Penggunaan obat ini terus dikonsumsi tiap kali siklus kemoterapi dilakukan.

Benarkah Sering Gunting Kuku Bisa Menyebabkan Cantengan?

Gunting kuku menjadi salah satu kebiasaan yang baik untuk dilakukan untuk menjaga kebersihan kuku. Hal ini dikarenakan kuku yang Panjang dapat melukai diri Anda atau orang lain serta menyimpan kotoran. Namun, ternyata kebiasaan gunting kuku yang salah dapat mengakibatkan Anda mengalami cantengan.

Menggunting kuku dengan cara yang salah bisa membuat pertumbuhan kuku menjadi tidak normal. Kondisi kuku yang tumbuh ke dalam sehingga melukai jari inilah yang disebut dengan cantengan. Seringkali kondisi ini terjadi pada ibu jari kaki. Terdapat 3 kesalahan cara menggunting kuku yang dapat menyebabkan cantengan, berikut diantaranya:

  1. Menggunting kuku terlalu pendek

Kuku yang terlalu pendek dapat tumbuh kea rah dalam jari dan dapat dengan mudah melukai jari Anda sendiri. Berhati-hatilah dalam menentukan seberapa jauh Anda memotong kuku, jangan potong terlalu pendek.

  • Memotong kuku dengan ujung melengkung

Memotong kuku hingga ujung kuku melengkung bukanlah cara yang baik. Kondisi ini dapat membuat kuku tumbuh mengikuti lengkungan sehingga melukai jari terutama sisi samping kuku. Potonglah kuku sehingga ujung kuku lurus.

  • Mencabut atau merobek ujung kuku

Terkadang ada saja bagian ujung kuku yang hampir lepas. Mencabut atau merobeknya merupakan tindakan yang salah. Pasalnya, mencabut atau merobek ujung kuku dapat berisiko membuat kuku tercabut melebihi yang diinginkan. Selain itu, tindakan ini dapat membuat bentuk ujung kuku setelahnya menjadi tidak beraturan yang dapat menyebabkan kuku tumbuh ke arah dalam jari.

Ketiga hal tersebut merupakan kebiasaan yang sering ditemukan pada penderita cantengan dan perlu Anda hindari. Bermaksud baik dengan rajin menggunting kuku saja tidaklah cukup. Rajin menggunting kuku perlu diimbangi dengan pengetahuan cara menggunting kuku dengan baik dan benar. Cantengan bukanlah kondisi serius, tapi sangat mengganggu.

Jika sudah terlanjur terjadi cantengan, periksakan jari Anda yang terkena cantengan ke dokter terdekat. Untuk mengurangi nyeri, Anda bisa merendam kaki dengan air hangat jika tidak ada tanda infeksi atau luka terbuka pada jari kaki Anda. Jangan pernah mencoba mengatasi cantengan dengan memotong bagian kuku yang melukai jari Anda.

Waspada Bahaya Asam Mefenamat bagi Ibu Hamil

Beredarnya obat-obatan bebas yang dijual di pasaran, belum hal tersebut tidak menjadi kepastian bahwa obat tersebut bebas dari bahaya jika dikonsumsi. Khususnya untuk ibu hamil yang perlu untuk memperhatikan segala yang dikonsumsi agar janin dalam kandungannya tumbuh dengan sehat. Salah satu obat yang dijual bebas dan berbahaya bagi ibu hamil, yaitu asam mefenamat.

Asam mefenamat adalah obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) yang memiliki fungsi untuk mengatasi rasa nyeri ringan hingga sedang, seperti nyeri karena sakit kepala maupun sakit gigi. Selain itu, obat ini juga sering dikonsumsi untuk meredakan peradangan dan nyeri pasca operasi. Fungsi lain yang sering dimanfaatkan dari asam mefenamat, yaitu untuk meredakan nyeri ketika menstruasi.

Kandungan asam mefenamat ini dapat Anda temukan di berbagai merek, seperti Ponstan, Mefinal, Allogon, Asimat, Dagosic, Maxtan, Lapistan, Solasic, dan Tropistan.

Mengapa asam mefenamat dilarang untuk dikonsumsi oleh ibu hamil?

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa asam mefenamat yang dikonsumsi oleh ibu hamil dapat berdampak negatif pada janinnya. Efek samping yang mungkin dapat terjadi, antara lain menyebabkan keguguran pada kandungan hingga kelahiran prematur.

Jika Anda memperhatikan kemasan obat yang mengandung asam mefenamat, terdapat peringatan bahwa obat ini tidak diperbolehkan untuk orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti sakit radang usus, ginjal, asma, termasuk ibu mengandung dan menyusui. Di samping itu, mengonsumsi obat ini tanpa resep dokter dapat berisiko pada kesehatan Anda. Efek samping yang telah diketahui sejauh dari obat ini, antara lain nyeri perut, mual, diare, hingga nyeri pada ulu hati.

Walaupun begitu, dalam kasus tertentu dokter dapat saja meresepkan asam mefenamat pada ibu hamil jika pasien berada dalam kondisi gawat darurat, yang mana obat pereda nyeri lainnya tidak cukup efektif mengatasi rasa sakit tersebut.

Resep untuk asam mefenamat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Jika selama tujuh hari ibu hamil mengonsumsi asam mefenamat, namun sakitnya tidak kunjung reda, maka segera berkonsultasi dengan dokter. Pasalnya, obat ini tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi lebih dari satu minggu.