Gejala dan Penyebab Sakit Kepala Tegang

Sakit kepala tegang

Sakit kepala tegang juga dikenal dengan sebutan “tension headache” merupakan jenis sakit kepala yang paling sering dijumpai. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa nyeri yang ringan, sedang, dan bahkan intens di belakang mata atau di dalam kepala dan leher. 

Beberapa orang bahkan beranggapan bahwa sakit kepala tegang terasa seperti adanya ikatan tali yang kencang di sekitar dahi. 

Kebanyakan orang yang mengalami sakit kepala tegang memiliki beberapa episode sakit kepala, dalam arti kondisi ini dapat terjadi rata-rata satu atau dua kali per bulannya. Akan tetapi, sakit kepala tegang juga dapat bersifat kronis. 

Sakit kepala kronis mempengaruhi sekitar 3 persen dari populasi Amerika Serikat, termasuk sakit kepala yang bertahan selama lebih dari 15 hari per bulannya. Wanita memiliki risiko lebih tinggi menderita sakit kepala tegang dibandingkan dengan pria. 

Penyebab dan gejala

Sakit kepala tegang disebabkan karena kontraksi otot di daerah kepala dan leher. Kontraksi jenis ini biasanya disebabkan karena makanan, aktivitas, ataupun stres.

Beberapa orang akan menderita sakit kepala tegang setelah melihat layar komputer dalam waktu lama atau setelah mengemudi dalam waktu lama. 

Suhu udara yang dingin juga dapat menjadi pemicu terjadinya sakit kepala tegang. Beberapa pemicu lain di antaranya adalah lupa makan, kurang tidur, berkurangnya asupan air, stres emosi, postur tubuh yang buruk, kafein, infeksi sinus, demam atau flu, merokok, kelelahan, mata kering, ketegangan mata, dan alkohol. 

Gejala sakit kepala tegang di antaranya adalah nyeri di kepala, adanya ketegangan di sekitar dahi, dan nyeri saat ditekan di daerah sekitar tengkorak dan dahi. Rasa nyeri tersebut biasanya bersifat ringan atau sedang, namun juga dapat berubah menjadi intens. 

Dalam kasus ini, ada kemungkinan Anda mengeri sakit kepala tegang sebagai migraine (jenis sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri parah di salah satu sisi atau kedua sisi kepala Anda). 

Namun, sakit kepala tegang tidak menyebabkan semua gejala sakit migraine, seperti mual dan muntah. Pada kondisi yang langka dan jarang dijumpai, sakit kepala tegang dapat menyebabkan sensitivitas terhadap cahaya dan suara yang keras, mirip dengan migraine. 

Dalam kasus yang parah, penyedia layanan kesehatan dapat melakukan tes guna memastikan kondisi Anda tidak disebabkan karena tumor otak. 

Tes yang digunakan untuk memeriksa kondisi lain di antaranya adalah CT scan, yang mana menggunakan sinar-X untuk mengambil gambar organ tubuh bagian dalam. Dokter juga dapat melakukan MRI untuk memeriksa jaringan lunak. 

Perawatan rumahan atau home care

Untuk mengatasi sakit kepala tegang, Anda bisa memulainya dengan minum lebih banyak air. Ini disebabkan karena ada kemungkinan Anda dehidrasi dan membutuhkan asupan air yang lebih banyak. 

Selain itu, pertimbangkan seberapa banyak Anda mendapatkan tidur. Kurang tidur dapat menyebabkan sakit kepala tegang, dan pastikan Anda tidak lupa makan, karena kurang makan dapat memicu terjadinya sakit kepala. 

Apabila strategi tersebut di atas tidak efektif dalam mengatasi sakit kepala tegang, Anda bisa beralih menggunakan obat-obatan over-the-counter atau OTC seperti ibuprofen dan aspirin. 

Akan tetapi, Anda hanya boleh menggunakan obat tersebut sesekali saja. Karena menggunakan obat OTC secara berlebih malah dapat menyebabkan “rebound headache”, jenis sakit kepala yang terjadi akibat Anda terlalu sering dan telah terbiasa mengonsumsi obat sehingga Anda mengalami rasa nyeri atau sakit kepala saat kemanjuran obat tersebut mulai hilang dalam sistem tubuh Anda.