Tes Serologi CMV, Cara Mengetahui Infeksi Cytomegalovirus

cytomegalovirus

Banyak orang yang tidak menyadari cytomegalovirus di tubuhnya karena virus ini bersifat tidak aktif jika sistem imun dalam keadaan baik. Suatu saat jika sistem imun menurun, virus berubah menjadi aktif sehingga penyakit seperti herpes atau gangguan pada organ lain akan muncul.

Penderita HIV juga memiliki risiko yang cukup tinggi karena sistem imun penderita yang lemah. Beberapa orang dengan kondisi tertentu disarankan untuk melakukan tes serologi CMV agar dapat mengetahui apakah sedang terinfeksi aktif, tidak aktif, atau tidak terinfeksi sama sekali.

Mengapa tes serologi CMV dibutuhkan?

Cytomegalovirus merupakan jenis virus yang umum menyerang manusia di semua umur. Menurut Center for Disease Control and Prevention, kebanyakan orang yang terinfeksi virus ini tidak menunjukkan tanda dan gejala khusus. Mereka tidak menyadari dan terlihat seperti orang sehat pada umumnya. Akan tetapi, sekali virus ini menginfeksi tubuh manusia, maka akan menetap seumur hidup.

Selain herpes, infeksi cytomegalovirus juga dapat menyebabkan penyakit mata yang serius bahkan berpotensi mengakibatkan kebutaan. Virus ini juga akan berisiko mengganggu sistem pencernaan, sistem saraf, paru-paru, maupun hati.

Dokter akan meminta Anda untuk melakukan tes serologi CMV jika mempunyai riwayat sebelumnya atau untuk mengetahui apakah pengobatan cytomegalovirus yang selama ini dilakukan telah efekif bekerja. Orang dengan sistem imun lemah, hamil, dan memiliki gejala seperti berikut ini disarankan untuk melakukan tes:

  • Kelelahan
  • Lemas
  • Tenggorokan sakit
  • Bengkak bagian nodul limfa
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot

Keluhan di atas merupakan gejala umum yang juga dirasakan penderita momonucleosis, seperti virus Epstein-Barr atau bahkan sekadar flu pada umumnya. Tes serologi CMV juga dilakukan untuk orang yang akan menerima dan donor organ serta pelaku donor sel telur dan sperma.

Prosedur tes

Tes serologi dilakukan untuk mendeteksi adanya antibodi cytomegalovirus berupa IgM dan IgG. Penggunaan enzim-linked immunosorbent (ELISA) merupakan jenis tes serologi paling umum untuk mengukur antibodi tersebut.

Petugas laboratorium akan mengambil sampel darah dari lengan. Kemudian dikirim dan dianalisis di laboratorium. Tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan untuk melakukan tes ini.

Tes akan menunjukkan hasil negatif jika tidak terdapat antibodi cytomegalovirus dalam darah. Hal ini berarti virus tersebut tidak menginfeksi tubuh atau bisa juga sistem imun Anda terlalu lemah sehingga tidak cukup mampu memproduksi antibodi untuk melawan virus.

Jumlah antibodi meskipun masih dalam jumlah rendah telah menunjukkan seseorang terinfeksi, meskipun hasil tersebut tidak akan diberitahukan sampai dokter melakukan observasi lanjutan sehubungan dengan tanda dan gejala yang terjadi. Dengan demikian, akan diketahui apakah virus sedang di tahap aktif sehingga berpotensi mengakibatkan penyakit serius atau tidak.

Apabila tes digunakan untuk memantau proses pengobatan, dokter akan menilai penurunan jumlah antibodi cytomegalovirus secara berkala. Jika pengobatan berhasil, seharusnya antibodi menurun, namun jika sebaliknya maka pengobatan dan kondisi tubuh pasien perlu dievaluasi kembali.   

Efek samping

Tes serologi CMV mungkin akan bermasalah jika Anda memiliki phobia darah atau ketakutan dengan jarum suntik. Selain itu, kemungkinan efek samping yang bisa ditimbulkan saat pengambilan darah antara lain:

  • Kesulitan pengambilan darah sehingga menyebabkan penggunaan banyak jarum dan suntikan lebih dari satu kali
  • Pendarahan yang berlebih
  • Hematoma atau kemungkinan darah berada di luar pembuluh darah
  • Infeksi jarum suntik

Anda sebaiknya selalu menjaga sistem imun dari berbagai penyakit termasuk cytomegalovirus. Pola hidup sehat sangat disarankan untuk mulai dilakukan dari sekarang secara rutin demi menjaga kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *