Kenali Perbedaan Anak Tantrum dan Meltdown

Kenali Perbedaan Anak Tantrum dan Meltdown

Anak tantrum dan meltdown memiliki persamaan yang mungkin sulit dibedakan. Keduanya sulit untuk dipahami, sulit untuk dicegah, dan bahkan lebih sulit untuk menanganinya mulai kambuh. Akan tetapi, meski keduanya memiliki kesamaan dalam segi emosi, namun jika diperhatikan secara detail, meltdown sangatlah berbeda dari tantrum. Lalu apa saja perbedaannya? Berikut penjelasan lengkapnya.

Anak tantrum vs meltdown

Banyak orang sulit membedakan antara anak tantrum dan meltdown. Tantrum biasanya digunakan untuk menggambarkan amukan yang lebih ringan, di mana seorang anak masih melihatkan adanya beberapa kontrol emosi atas perilakunya. Salah satu tolok ukur yang digunakan banyak orang tua adalah bahwa amukan cenderung mereda jika tidak ada yang memperhatikannya dalam jangka panjang. Kondisi ini bertentangan dengan meltdown,, di mana seorang anak kehilangan kendali sepenuhnya sehingga perilakunya hanya berhenti ketika dia lelah dan/atau Anda mampu menenangkannya.

Baik ringan atau berat, anak tantrum adalah gejala bahwa seorang anak sedang berjuang dengan emosi yang tidak dapat dikendalikan seorang diri. Kemarahan, tentu saja, adalah emosi nomor satu yang menyebabkan anak-anak kehilangan akal dan mengamuk. 

Anak tantrum biasanya merasa bahwa dia pantas atau membutuhkan sesuatu yang sengaja disembunyikan darinya, sebagai contoh kue, video game, atau sesuatu yang dia sangat inginkan di toko mainan tersebut. Penolakan dari orang tua membuat mereka merasakan perasaan frustasi dan ketidakadilan.

Akan tetapi mereka bisa mengalami kecemasan yang merupakan salah satu pemicu besar lainnya. Hal ini dapat menyebabkan anak menjadi sangat panik, mengesampingkan logika yang memungkinkan dia melihat bahwa kecemasannya tidak sesuai dengan situasi.

Penyebab mendasar

Ketika anak-anak tidak dapat mengontrol emosi mereka bisa saja mengalami gangguan tantrum, atau meltdown. Anak tantrum dan meltdown, dapat dipicu oleh begitu banyak masalah yang berbeda sehingga Anda terkadang tidak dapat menghentikannya sampai dapat memahami apa yang memicunya.

Terkadang ketidakmampuan untuk mengatur emosi adalah akibat dari masalah yang mendasarinya. Beberapa penyebab umum yang sering terjadi adalah:

ADHD

Dalam penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr. Amy Roy dari Fordham University, lebih dari 75% anak-anak yang mengalami meltdown yang parah disebabkan ADHD. Ini adalah gangguan ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan dan mentolerir kebosanan. Artinya emosinya sangat tidak stabil dan bergantung pada mood.

Kecemasan 

Kecemasan adalah kontributor utama lainnya. Bahkan jika anak-anak tidak memiliki gangguan kecemasan yang parah, mereka mungkin masih terlalu reaktif terhadap situasi yang memicu kecemasan dan meleleh ketika mereka stres. Anak-anak yang memiliki ketidakmampuan belajar yang tidak terdiagnosis atau menderita trauma atau pengabaian dapat bereaksi seperti ini ketika dihadapkan pada situasi yang tidak nyaman atau menyakitkan.

Masalah belajar

Ketika anak bertingkah di sekolah atau selama waktu pekerjaan rumah, ada kemungkinan ia memiliki gangguan belajar yang tidak terdiagnosis. Katakanlah dia memiliki banyak masalah dengan pelajaran matematika yang membuatnya sangat frustasi dan mudah tersinggung. Alih-alih meminta bantuan, namun ia salah mengekspresikannya dan justru merobek tugas atau bertengkar dengan temannya untuk mengalihkan perhatiannya dari masalah sebenarnya.

Depresi dan iritabilitas

Depresi dan iritabilitas juga terjadi pada sebagian anak yang mengalami temper tantrum yang parah dan sering. Gangguan baru yang disebut gangguan disregulasi suasana hati yang mengganggu, atau DMDD, menggambarkan anak-anak yang mengalami ledakan parah dengan iritabilitas parah kronis di antaranya. 

Autisme

Anak-anak dengan spektrum autisme juga rentan terhadap kehancuran yang dramatis. Anak-anak ini cenderung kaku dan setiap perubahan tak terduga dapat memicu mereka menjadi sangat marah. Anak tantrum umumnya tidak memiliki keterampilan bahasa dan komunikasi untuk mengungkapkan apa yang mereka inginkan dan butuhkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *