Mendeteksi Penyakit Hepatitis B dengan Tes HBsAg

Mendeteksi Penyakit Hepatitis B dengan Tes HBsAg

Salah satu cara untuk mendeteksi penyakit hepatitis B adalah dengan tes HBsAg. Hepatitis B sendiri merupakan infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis. Sangat penting untuk mendeteksi penyakit ini sedini mungkin, karena terdapat kemungkinan penderita sudah mengalami hepatitis B secara kronis atau akut.

Penyakit ini dikatakan akut jika infeksi terjadi di dalam tubuh selama kurang dari enam bulan. Jika lebih, maka sudah tergolong kronis dan risiko bisa meningkat jika pasien mengalami gagal hati, sirosis hati, atau kanker hati.

Apabila seseorang telah menjalani tes HBsAg dan hasilnya positif, artinya ia telah terinfeksi virus hepatitis B. Orang tersebut juga berisiko untuk menularkan penyakit ini kepada orang lain melalui pembuluh darah atau cairan tubuh lainnya.

Orang-orang yang dianjurkan untuk melakukan tes HBsAg

Umumnya, tes HBsAg dianjurkan pada orang-orang yang mengalami kondisi berikut:

  • Mengalami gejala dari penyakit hepatitis seperti peningkatan enzim hati dan mengalami penyakit kuning
  • Sedang menjalani kemoterapi serta mengkonsumsi obat yang menekan sistem imun
  • Kontak dengan pasien hepatitis B dan memiliki faktor risiko tinggi untuk terinfeksi virus ini
  • Pasien yang menjalani terapi untuk hepatitis B atau hepatitis C
  • Sudah menjalani tes namun status infeksi hepatitis B tidak jelas
  • Akan menjalani vaksinasi hepatitis B

Orang yang memiliki risiko tinggi mengalami infeksi hepatitis B antara lain:

  • Petugas medis yang kontak dengan penderita hepatitis B
  • Orang yang menggunakan obat terlarang jenis suntik
  • Orang yang berhubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan
  • Pasien yang menderita penyakit hati kronis
  • Pasien penyakit ginjal
  • Pria yang berhubungan seksual dengan sesama pria
  • Orang berusia diatas 60 tahun dan mengidap diabetes

Prosedur tes HBsAg

Prosedur pemeriksaan HBsAg adalah dengan mengambil sampel darah pasien. Kemudian, sampel ini akan diperiksa di laboratorium. Pengambilan sampel darah ini umumnya dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • Petugas medis membersihkan area jarum suntik terlebih dahulu menggunakan cairan antiseptik
  • Area pengambilan darah umumnya pada bagian dalam siku
  • Petugas medis akan memasangkan torniket pada area pengambilan darah guna membendung pembuluh darah vena sehingga dapat terlihat lebih jelas
  • Kemudian, petugas medis akan menusukkan jarum suntik ke pembuluh darah vena yang sudah terlihat tersebut
  • Sampel darah yang telah diambil menggunakan jarum suntik dan sudah dalam jumlah yang cukup akan dimasukkan ke dalam tabung khusus untuk dikirim dan dianalisis di laboratorium
  • Setelah itu, torniket akan dilepas dan area pengambilan darah akan dibersihkan kembali menggunakan cairan antiseptik untuk menghindari infeksi.

Hasil tes HBsAG

Hasil dari pemeriksaan HBsAg adalah positif dan negatif. Jika positif, maka dapat dikatakan bahwa pasien telah terinfeksi hepatitis B dan perlu penanganan medis secepat mungkin. Dokter juga akan menganjurkan untuk menjalani tes lain untuk menentukan apakah hepatitis B yang dialami bersifat akut atau kronis serta dapat menentukan apakah pasien perlu melakukan vaksinasi hepatitis B atau tidak.

Keakuratan Swab Antigen dan Metode Lain untuk Mendeteksi Covid-19

Dalam memilih tes untuk mendeteksi Covid-19, ada beberapa hal yang biasa menjadi pertimbangan, seperti biaya, kemudahan, dan tingkat akurasi. Baik tes swab antigen maupun tes swab PCR memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Sebelum menentukan tes apa yang akan Anda pilih untuk diagnosis, penting untuk memahami jenis-jenis tes yang ada dan kelebihan maupun kekurangan dari masing-masing jenis, salah satunya adalah dari segi keakuratan swab antigen.

Mengenal Jenis-Jenis Tes Covid-19

Secara garis besar, tes Covid-19 dapat dibagi menjadi tes yang dapat mendeteksi apakah Anda pernah terinfeksi Covid-19, dan tes yang dapat mendeteksi apakah Anda saat ini sedang terinfeksi Covid-19.

Tes yang dapat mendeteksi infeksi Covid-19 di masa lampau disebut tes antibodi. Tes antibodi memeriksa apakah telah ada antibodi yang terbentuk dari infeksi Covid-19, sehingga ideal untuk digunakan jika Anda ingin melakukan donasi plasma konvalesen. Akan tetapi, tes ini tidak disarankan digunakan untuk mendeteksi infeksi yang baru terjadi.

Tes yang dapat mendeteksi infeksi Covid-19 yang sedang terjadi dapat dibagi menjadi dua, yaitu tes molekuler dan tes antigen. Tes molekuler, atau tes swab PCR, bekerja dengan mendeteksi gen yang terdapat di dalam virus Covid-19. Sementara itu, tes antigen mendeteksi protein yang terdapat dalam virus Covid-19 dengan menggunakan antibodi.

Kelebihan dan Kekurangan Swab Antigen dan Metode Lain

Swab Antigen

Tes swab antigen bekerja dengan mendeteksi protein pada virus Covid-19. Menggunakan alat usap atau swab, protein virus didapatkan dari sampel lendir yang diambil dari hidung dan dicampurkan dengan antibodi yang dapat mendeteksi kandungan protein tersebut.

Secara fungsi, alat tes swab antigen serupa dengan alat tes kehamilan yang dapat dilakukan sendiri di rumah. Hasil yang didapatkan pun relatif cepat, dalam kurun waktu 15 hingga 30 menit. Kemudahan penggunaan dan pemeriksaan hasilnya juga membuat harga tes antigen lebih terjangkau dibandingkan tes swab PCR.

Di sisi lain, tingkat akurasi swab antigen terbilang lebih rendah dibandingkan tes swab PCR. Saat ini, swab PCR masih menjadi gold standard untuk mendeteksi Covid-19. Tingkat akurasi tersebut ditentukan oleh prosedur pengambilan sampel dan waktu pengambilan sampel setelah penularan terjadi.   

Swab PCR

Seperti tes swab antigen, tes PCR juga menggunakan alat usap atau swab untuk mendapatkan sampel. Tes ini memeriksa kandungan gen pada virus Covid-19 yang terdapat pada sampel lendir dari hidung dan tenggorokan.

Dibandingkan tes swab antigen, akurasi tes swab PCR lebih tinggi. Tingkat false negative, atau tes dengan hasil negatif pada pasien positif, pada tes swab PCR lebih rendah dibandingkan pada tes antigen. Sama seperti tes antigen, akurasi tes swab PCR dipengaruhi oleh jarak waktu tes dengan waktu tertular.

Meski lebih akurat, tes PCR juga memiliki kekurangan. Pemeriksaan hasil tes harus dilakukan di laboratorium khusus dengan peralatan yang spesifik, sehingga membutuhkan biaya yang lebih tinggi. Pemeriksaan hasil juga membutuhkan waktu lebih lama, sehingga lebih sering terjadi penumpukan pemeriksaan hasil tes hingga berhari-hari.  

Metode apa yang paling akurat?

Saat ini, belum ada cara yang pasti untuk dapat mengukur tingkat keakuratan tes untuk mendeteksi Covid-19. Umumnya, akurasi tes dapat dilihat dari tingkat false negative dan false positive yang dihasilkan. Kondisi false negative dan false positive dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya penularan yang tidak terdeteksi, serta penanganan yang terlambat.

Hingga saat ini, tingkat false negative hasil tes swab antigen lebih tinggi dibandingkan pada swab PCR. Jika Anda telah mendapat hasil negatif dari hasil tes antigen namun masih menunjukkan gejala Covid-19, segera berkonsultasi dengan dokter atau melakukan pemeriksaan ulang dengan swab PCR untuk memastikan hasil yang didapat.

Akurasi tes juga ditentukan oleh ketepatan prosedur yang dilakukan. Hasil tes, baik untuk swab antigen maupun PCR, akan lebih akurat jika dilakukan dengan prosedur yang tepat dan oleh petugas yang berpengalaman. Oleh karenanya, penting untuk memilih fasilitas kesehatan yang dapat dipercaya untuk menjalani tes Covid-19, seperti di puskesmas, klinik, atau rumah sakit setempat.

Anda bisa booking untuk melakukan swab antigen lewat aplikasi SehatQ yang bisa langsung didownload melalui Google Play Store / App Store sekarang.

Kenali Perbedaan Tes Swab Corona PCR, Antigen, dan Rapid Test Antibodi

Di Indonesia, ada beberapa jenis pemeriksaan untuk mendeteksi seseorang terinfeksi virus Covid-19. Ada tes swab Corona atau PCR, tes swab antigen, hingga rapid test antibodi. Apa perbedaannya? Yuk, kenali secara jelas berikut ini.

Tes Swab Corona PCR (Polymerase Chain Reaction)

Tes PCR merupakan pemeriksaan yang dianjurkan oleh badan WHO karena tingkat akurasinya sangat tinggi hingga 90 persen dalam mendeteksi virus corona.

Seperti namanya, tes swab PCR ini dilakukan dengan metode usap untuk mengambil sampel lendir dari hidung dan tenggorokan. Hidung dan tenggorokan merupakan tempat virus menggandakan dirinya. Jadi, saat masuk ke dalam tubuh, virus akan menempel di dalam hidung atau tenggorokan. 

Pengambilan sampel untuk mencari materi genetik dari virus corona. Hanya saja, metode pemeriksaan PCR ini butuh waktu yang lama untuk mendapatkan hasilnya. 

Setelah pengambilan pengambilan spesimen sampel ini, akan dimasukkan dalam tabung khusus dan ditutup. Pemeriksaan sampel akan dilakukan di laboratorium dengan teknik PCR, yaitu pemeriksaan dengan mencocokkan DNA atau RNA virus penyebab Covid-19. 

RNA yang terdapat pada sampel akan direplikasi dan digandakan sebanyak mungkin. Tujuannya adalah untuk mencocokkan dengan susunan DNA virus corona. 

Prosedur Tes Swab Corona PCR

Berikut beberapa tahapan yang perlu dilakukan selama proses pemeriksaan tes PCR.

  • Bukalah masker ketika akan mengambil sampel berupa lendir dari hidung dan tenggorokan. Tentu pasien harus menggunakan masker dan protokol kesehatan lainnya. Masker dibuka hanya ketika diminta saja. Selain dari itu, masker harus dipakai
  • Petugas akan meminta pasien mendongak ke atas untuk memudahkan proses pengambilan sampel
  • Alat tes yang digunakan untuk mengambil sampel mirip seperti cotton bud panjang. Alat ini akan dimasukkan ke dalam hidung hingga nasofaring
  • Setelah alat dimasukkan, petugas kesehatan akan memutar atau menggerakkan alat swab sehingga lendir menempel di alat swab
  • Jika selesai, sampel akan dimasukkan dalam tabung plastik untuk diperiksa di laboratorium. Pasien diminta untuk menggunakan masker kembali dan menunggu hasilnya keluar sekitar 1-2 hari.

Mengenal Rapid Test Antigen

Selain tes swab corona PCR, ada pula tes swab antigen. Metode pemeriksaan yang satu ini mirip dengan tes PCR, namun hanya digunakan untuk menentukan apakah pasien terinfeksi atau tidak. Hasil pemeriksaan tes antigen juga lebih cepat.

Cara kerja dari metode pemeriksaan antigen ini adalah dengan mendeteksi adanya benda asing atau antigen yang masuk ke tubuh. Saat virus masuk ke tubuh, biasanya akan terdeteksi oleh sistem imun tubuh.

Tes antigen akan mendeteksi antigen virus Covid-19 ini dari sampel lendir hidung atau tenggorokan menggunakan metode usap.

Antigen sendiri merupakan protein yang dikeluarkan oleh virus yang bisa terdeteksi saat ada virus masuk dalam tubuh. Jadi, cocok dilakukan oleh orang yang baru terinfeksi Covid-19. 

Akan tetapi, dokter biasanya juga akan menyarankan pasien untuk tetap melakukan tes PCR setelah melakukan rapid test Antigen. Apalagi jika pasien memiliki gejala yang jelas namun hasil tes antigen negatif.

Mengenal Rapid Test Antibodi

Rapid test itu terdiri dari 2 jenis, yaitu rapid test antigen dan antibodi. Bedanya, rapid tes antibodi menggunakan sampel darah dari tubuh pasien. 

Rapid test antibodi sendiri memiliki tingkat akurasi yang rendah untuk mendeteksi keberadaan virus SARS-CoV-2. Rapid test akan mengenali antibodi dalam sampel darah yang diambil.

Antibodi adalah protein yang dibentuk oleh sistem imun tubuh sebagai pertahanan dan perlindungan ketika terinfeksi virus corona. 

Tingkat akurasi rapid test antibodi dibandingkan dengan tes PCR atau antigen memang sangat rendah. Rapid test antibodi ini juga berisiko tidak akurat, apalagi masing-masing orang bisa memberikan respons yang berbeda-beda ketika terinfeksi virus.

Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, tingkat keparahan penyakit, nutrisi yang dikonsumsi, hingga adanya penyakit penyerta yang dialami pasien. 

Kekurangan dari rapid test antibodi ini adalah kemungkinan munculnya reaksi dari jenis virus lain selain penyebab virus Corona. Sehingga hasil rapid test antibodi ini tidak secara spesifik mendeteksi virus SARS-CoV-2 saja. Begitu pula dengan rapid test antibodi yang kemungkinan kurang akurat. Alasannya sama, tes antigen bisa mendeteksi tidak hanya virus Covid-19 saja, tapi juga influenza. 

Itulah sebabnya tes antigen dan rapid test antibodi hanya untuk skrining awal virus corona saja. Setelah itu, pasien tetap dianjurkan untuk tes swab corona PCR jika memiliki gejala-gejala terinfeksi Covid-19.

Prosedur dan Biaya Scaling Gigi

Biaya scaling gigi terbilang cukup murah. Dengan manfaat yang dimilikinya, scaling gigi tidak hanya dapat membuat senyum Anda lebih indah, tetapi juga dapat mencegah komplikasi penyakit mulut dan gigi yang berbahaya. Namun, apa sesungguhnya prosedur scaling ini? Scaling gigi sering dilakukan untuk membantu pasien dengan penyakit gusi dan penumpukan plak berlebih. Ini adalah jenis prosedur pembersihan gigi yang akan membersihkan garis gusi dan mengangkat penumpukan plak berlebih. Proses scaling gigi dan root planing sering dikenal dengan sebutan “deep cleaning”. Perawatan yang didapatkan melebihi perawatan pembersihan pada umumnya yang Anda dapatkan pada saat pemeriksaan rutin dan kunjungan tahunan. 

Setiap orang pasti mengalami adanya penumpukan plak. Air liur, bakteri, dan protein di dalam mulut membentuk lapisan tipis yang menutupi gigi hampir setiap waktu. Saat Anda makan, partikel kecil, asam, dan gula dalam makanan akan menempel pada lapisan tipis tersebut, menciptakan penumpukan pada gigi yang dikenal dengan sebutan plak. Bakteri yang hidup pada plak tersebut dapat menyebabkan penyakit gusi dan gigi berlbungan. Menyikat gigi dan melakukan flossing dengan rutin, serta melakukan pembersihan scaling gigi dengan teratur dapat membantu membersihkan plak tersebut dan mencegah masalah serius terjadi pada mulut dan gigi Anda. Scaling gigi bisa dilakukan di klinik gigi terdekat Anda, dengan biaya scaling gigi yang relatif cukup terjangkau. 

Jika Anda memiliki gusi yang sehat, jaringan akan menempati sekitar gigi dengan pas dan menjaga plak agar tidak menyerang. Akan tetapi, apabila penyakit gusi mulai terbentuk, jaringan akan kendur. Gusi yang sehat akan menempel pada gigi 1-3 mm di bawah garis gusi. Dengan adanya penyakit gusi, Anda akan mengembangkan “kantung” yang lebih dalam. Kantung tersebut dapat terisi plak, yang kemudian akan memperburuk kondisi kesehatan mulut dan gigi dan menyebabkan berbagai macam gejala seperti bau mulut yang tidak sedap. Jika Anda memiliki kantung 4 mm atau lebih, dokter gigi akan merekomendasikan scaling gigi untuk membersihkan plak di bawah garis gusi dan membantu merawat penyakit gusi. 

Prosedur

Scaling gigi melibatkan plak dan bakteri dari permukaan gigi yang berada di bawah garis gusi. Ada dua metode dasar scaling gigi. Jika dokter gigi menggunakan alat genggam, ia akan mengikis plak dari gigi menggunakan alat logam yang dikenal dengan sebutan dental scaler atau curette. Dokter gigi kemudian akan memasukkan alat tipis di bawah garis gusi untuk membersihkan plak yang sikat gigi tidak dapat jangkau. Dokter gigi juga dapat menggunakan alat ultrasonic untuk melakukan scaling gigi. Alat ini memiliki ujung bergetar yang dikombinasikan dengan semprotan air dingi. Bagian ujung akan mengikis karang gigi dan air akan membersihkan kantung gusi. Scaling gigi biasanya akan diikuti dengan sebuah prosedur yang dikenal dengan sebutan root planing. Prosedur ini akan mencapai lebih dalam untuk mengatasi masalah yang ada pada akar gigi. Prosedur ini mirip dengan scaling gigi. Root planing akan menghaluskan permukaan akar gigi sehingga gusi dapat menempel dengan baik. 

Scaling gigi merupakan sebuah prosedur dengan tingkat risiko yang rendah. Biaya scaling gigi pun relatif terjangkau, sehingga sangat dianjurkan untuk Anda untuk mendapatkan prosedur ini dengan rutin. Gigi Anda mungkin akan terasa nyeri dan sensitif setelah scaling gigi dan root planing dilakukan, namun rasa tidak nyaman tersebut hanya akan terjadi secara sementara. 

Pemeriksaan-Pemeriksaan dalam Paket Medical Check Up untuk Kerja

Dalam proses penerimaan karyawan baru, biasanya perusahaan memasukkan paket medical check up sebagai salah satu persyaratan. Medical check up untuk kerja bertujuan agar karyawan yang mereka rekrut dalam kondisi sehat karena kesehatan karyawan berkaitan dengan tingkat produktivitas mereka dalam bekerja. 

Ada begitu banyak paket medical check up untuk kerja yang bisa dijalani calon karyawan. Namun, ragam pemeriksaan yang akan dijalani biasanya disesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan mereka lakukan. Semakin berat dan berisiko pekerjaan, mungkin paket medical check up untuk kerja akan semakin lengkap.

Akan tetapi, jenis pemeriksaan yang dilakoni dalam paket medical check up untuk kerja bagi calon karyawan umumnya meliputi:

Pemeriksaan riwayat kesehatan. Ini merupakan tahap paling awal dalam paket medical check up untuk kerja bagi calon karyawan. Pemeriksaan ini sekadar penggalian informasi yang biasanya didapat dari kuisioner atau wawancara dengan dokter. Tahap ini biasanya akan dijadikan landasan dokter untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya. Pertanyaan yang sering muncul antara lain:

  • Keluhan kesehatan yang mungkin dialami oleh pasien.
  • Riwayat kesehatan pasien, termasuk gangguan kesehatan yang pernah diderita baru-baru ini atau pada masa lalu.
  • Riwayat operasi yang pernah dilalui pasien.
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi.
  • Alergi terhadap obat atau makanan tertentu.
  • Riwayat kesehatan keluarga.
  • Gaya hidup yang dijalani pasien saat ini.

Pemeriksaan tanda vital. Pada tahap pemeriksaan ini, dokter akan mencatat tanda vital pasien, seperti:

  • Frekuensi denyut jantung. Denyut jantung normal adalah 60-100 kali per menit.
  • Frekuensi pernapasan. Pernapasan normal berkisar antara 12-20 kali per menit.
  • Suhu tubuh. Rata-rata suhu tubuh normal adalah 36-37o

Tekanan darah. Pemeriksaan tekanan darah juga masuk ke dalam paket medical check up standar untuk calon pasien. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendeteksi apakah pasien menderita hipertensi atau hipotensi. Tekanan darah normal adalah 90/60 mmHg hingga di bawah 120/80 mmHg.

Pemeriksaan fisik. Dokter akan mengawali pemeriksaan fisik dengan menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan pasien. Kemudian, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan terhadap sejumlah bagian tubuh yang meliputi:

  • Pemeriksaan kepala dan leher, untuk memeriksa kondisi tenggorokan dan amandel, kualitas gigi dan gusi, telinga, hidung, mata, kelenjar getah bening, dan kelenjar tiroid.
  • Pemeriksaan paru, untuk mendeteksi suara abnormal yang mungkin terjadi di organ paru.
  • Pemeriksaan jantung, untuk mendeteksi kemungkinan gangguan pada jantung dengan menggunakan stetoskop.
  • Pemeriksaan perut, untuk mendeteksi ukuran hati dan keberadaan cairan perut, serta mendengarkan bunyi usus dengan menggunakan stetoskop.
  • Pemeriksaan kulit, untuk mendeteksi adanya gangguan pada kulit dan kuku.
  • Pemeriksaan saraf, untuk mengukur kekuatan otot, refleks tubuh, serta keseimbangan yang mungkin terganggu.

Setelah pemeriksaan-pemeriksaan itu, biasanya paket medical check up untuk kerja yang diambil akan menentukan pemeriksaan selanjutnya. Itu sering disebut pemeriksaan penunjang. Jika seseorang mendaftar sebagai anggota Polri atau TNI, kerap kali dilakukan pemeriksaan penis dan testis—untuk laki-laki—guna melihat apakah ada infeksi atau peradangan, serta pemeriksaan prostat dengan colok dubur. Untuk pasien wanita, dokter akan melakukan pemeriksaan payudara dan panggul.

Selain itu, umum pula paket medical check up meliputi pemeriksaan laboratorium untuk mengetes sampel darah, urine, atau tinja. Masing-masing sampel akan mengungkap kondisi kesehatan seseorang melalui karakteristiknya masing-masing.

Pemeriksaan dengan alat-alat radiologi, seperti rontgen, usg, elektrokardiografi (EKG) juga umum dilakukan dalam serangkaian paket medical check up untuk kerja bagi calon karyawan. Pemeriksaan spirometri untuk memeriksa fungsi paru termasuk pula, meski cukup jarang. 

Satu pemeriksaan lain yang amat sering dilakukan dalam paket medical check up adalah tes buta warna. Sebab beberapa perusahaan mengharuskan calon karyawan tidak buta warna karena pekerjaan yang dilakukan nantinya menentut “kesempurnaan” tersebut.

Di akhir, seluruh rangkaian medical check up untuk kerja itu disesuaikan dengan usia dan faktor risiko atau bahaya yang ada ada di lingkungan kerjanya. Misalnya bagi karyawan yang bekerja dengan kebisingan dapat dilakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala dengan tes pendengaran (audiometri), dan bagi karyawan yang bekerja dengan zat kimia tertentu dapat dilakukan monitoring kadar zat kimia tersebut dalam darah.